Jakarta, Membaca klaim terhadap laut natuna utara, serta makin menggilanya gerakan oraganisasai papua merdeka di Papua, mengingatkan akan syair lagu soldier of fortune yang dinyanyikan oleh group band The Purple. Dalam syair itu digambarkan kegalauan, dan impian seorang sudah merasa tua menunggu keberuntungan, dan ini juga terlihat dengan sikap Pemerintah terhadap kasus Laut Natuna utara dan Papua, dimana prajurit TNI bergerak dalam mengaman wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Indonesia hanya didasari komando panglima matra masing-masing, sedangkan fungsi panglima tertinggi yang diamanatkan dalam Undang-Undang Sasar 1945 tidak dijalankan oleh Presiden, maka tidak heran jika analisa Prof. DR Sri Edy Swasono yang menggambarkan ada upaya gerakan memecah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Situasi nampak dengan tindakan memecah belah masyarakat, dan tidak adanya sikap tegas secara politik dalam menjaga marwah kedaulatan terutama pada kasus dan sikap China di Laut Natuna Utara dan Papua. Dan kondisi ini di manfaatkan oleh negara-negara seperti China, Amerika, Rusia untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam bidang politik,ekonomi,sosial budaya hukum pertahanan dan keamanan. Dan karena itu wujudkan NKRI harga mati, jangan merasa tua dan menunggu keberuntungan.





