
Hizbullah Indonesia
*REZIM PENJUAL NEGARA PELAKU MAKAR SEGERA JATUH SEIRING DENGAN HANCURNYA PEREKONOMIAN: Pertumbuhan Ekonomi 5% Yang Merupakan Ilusi Antek CIA… Membelah NKRI Menjadi Negara Dalam Negara… (1)*
Sri-Bintang Pamungkas
Pernyataan si Yayak Purbaya, Koboi Ndeso, bahwa pertumbuhan ekonomi mencapai 5.4% pada kwartal terakhir tahum 2025 hanya sebuah kebohongan “asal njeplak” seorang agen. Dia pernah bilang si Ninik Mulyani adalah Agen CIA… Padahal Yayak sendiri sama-sama the Economic Hit Man keluaran the School of Americas, sekolah tempatnya para Agen CIA ditatar…
Tahun 2026 ini, kalau masih berlanjut, Yayak akan bilang pertumbuhan ekonomi kwartal pertama akan mencapai 5.6% atau lebih… untuk kemudian mencapai 6% pada seluruh tahun.
Seperti saya katakan berulang-ulang, angka 5% pertumbuhan ekonomi itu adalah the Golden Number para economist pada masa itu… Seakan-akan kalau pertumbuhan ekonomi negara bisa mencapai rata-rata 5% dan kemudian melewatinya, maka negara tersebut akan mencapai fase take-off atau lepas landas untuk menjadi negara maju, terlepas dari situasi negara miskin atau terbelakang…
Memang bisa jadi benar pikiran itu, kalau angka pertumbuhan pendapatan nasional (baca: GDP) rata-rata itu tidak sekedar angka rata-rata pendapatan nasional semisal antara 1 dan 10 menjadi (1 + 10) ÷ 2 = 5.5. Tetapi, angka pertumbuhan rata-rata pendapatan nasional itu benar-benar di antara seluruh penduduk merata sebesar 5% dari Sabang sampai Merauke. Barulah fase ekonomi take-off akan benar-benar bisa terjadi… Jadi, persyaratan take-off adalah pemerataan pendapatan.
Di jaman Soeharto demikian pula yang terjadi… Ketika harga minyak mentah dunia naik dari 3DpB menjadi 10DpB, maka ekonomi Indonesia bertumbuh hingga 8-9% setahun. Perekonomian juga menunjukkan kenaikan selama Pak Harto membagi-bagi hutan-hutan tropis kita. Hutan tropis yang disebut juga “hutan hujan” itu dibagi-bagikan menjadi HPH dan HTI kepada para ECI (Etnis Cina Indonesa) Cina Konglomerat kita… yang menyulapnya menjadi primadona ekspor kayu Gelondongan. Di situ Pak Harto mulai memelihara Naga-naga Cina Petelur Emas… Sementara rakyat tetap miskin dan teraniaya…
Jadi jangan mudah dibohongi si Yayak dan si Ninik, atau para Mafia Berkeley itu. Tidak saja bohong, tapi mereka mempunyai misi menghancurkan ekonomi Indonesia seperti para the Economic Hit Men yang sudah mulai blusukan sejak jaman Soeharto berkuasa.
Bayangkan ada 3 (tiga) Negara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Negara Rakyat Jelata, Negara Rezim Wiwik-Wowok, dan Negara Oligarki Konglomerat Cina. Masing-masing Negara mempunyai penduduk 250 juta, 40 juta dan 10 juta. Ketiga Entitas Negara berpenduduk total 300 juta itu bertumbuh perekonomiannya (baca: Pendapatan Nasional atau GDP) masing-masing sebesar NOL%, 20% dan 80%… maka si Yayak akan mendapatkan pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata sebesar (250×0% + 40×20% + 10×80%) ÷ 300 = 5.3%… Lalu si Yayak berteriak gembira, pongah dan bangga, bahwa di bawah kekuasaannya sebagai Menteri Keuangan, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sudah membaik, naik lebih dari 5%. Anak si Yayak pun mengumpulkan teman-temannya satu Geng dan bilang: “Tuh, liat… Babe Gue…”…
Padahal Rakyat tetap melarat dan tertindas, Rezim semakin berkuasa dan bermewah-mewah seperti Raja, dan ECI semakin bersimaharajalela dengan menindasi Rakyat… Seluruh isi Republik pun ikut terkekeh-kekeh… sekalipun Bencana Banjir membunuh Sumatera… Ada yang Mengacungi Jempol… ada pula yang cuma Plonga-plongo… Para Guru Besar diam seribu bahasa.
(Bersambung)
Jakarta, Hari Malari, 15 Januari 2025
@SBP




