Jakarta, Dengan bergulirnya kasus mafia minyak goreng dan kasus Big Data adalah bukti telah terjadi perpecahan dikoalisi Jokowi baik dalam koalisi partai pendukung maupun pada koalisi di birokrasi. Hal ini terlihat dengan sikap dan komentar anggota koalisi partai di parlemen, terutama partai PDIP, dimana situasi ini diperlihatkan dengan jelas oleh anggota parlemen PDIP Masinton Pasaribu dan juga sikap Nasdem yang diperlihatkan oleh mentan Syahrul Yasin Limpo dalam dengar pendapat dengan komisi IV DPR dalam kasus dana Pembiayaan sawit rakyat yang baru tersalur kurang lebih Rp. 6 triliun padahal anggarannya kurang lebih sekitar Rp. 140 triliun, dan juga beliau menggungkap tentang kebijakan dan tata kelola dana PSR dan minyak goreng. Dan selain itu dari koalisi praktisi dan profesional, diperlihatkan demgan sikap Menteri BUMN Erick Thohir yang menyentil mafia bibit sawit dan pupuk.
Dan begitu juga dengan komen Mahfud MD, Srimul Yani ketua MPR Bambang Soesatyo dan ketua DPD La Nyalla Mattalitti nemberi sinyal ada ketidakharmonisan dalam koalisi Jokowi. Dan wajar Jokowi berupaya mendekati Anies dalam membuat koalisi baru setelah ditinggal koalisinya. Maka tidak heran Jkkowi mendukung pelaksanaan Formula E dengan mengunjungi tempat perhelatan formula E tersebut.





