Jakarta, Setelah China dan sekjen PBB mempermalukan dengan melarang kita melakukan di Zona Ekslusif Ekonomi Laut Natuna, serta dimasukannya Indonesia sebagai 46 Negara pelanggar HAM, termasuk juga kasus HAM di Papua yang digoreng oleh negara-negara di wilayah pacifik, serta dukungan Partai Komunis China pada KKB di Papua. Dan sampai saat ini belum ada sikap tegas dari Presiden sebagai kepala negara maupun kepala Pemerintahan, padahal kondisi kedalatan NKRi sudah di ancam secara terangan-terangan.
Melihat situasi seperti ini, sangat menyedihkan pihak pertahanan dan keamanan jalan sendiri-sendiri dengan matranya, dan oligarki sibuk dengan Papres dan kepentingannya terhadap kekuasaan. Dan selain itu kita sibuk berkelompok dan saling hujat dan mengaku paling NKRI padahal tidak pernah berbuat untuk NKRI, sedangkan saudara kita sedang melawan maut menpertahan kedaulatan NKRI dan karena itu tanya dalam diri kita masih adakah harga diri dan rasa malu, serta benarksh kita NKRI! Dan jika kita rapatkan barisan dan lawan pengganggu kedaulatan NKRI, dan kehormatan Bangsa Indonesia, dengan sikap padamu negeri kami berbakti, padamu negeri berjanji, padamu kami mengabdi.
Dan jika kita melihat sikap tegas para pahlawan dan pendiri negara yang secara tegas melawan setiap kehormatan dan kedaulatan dihinakan oleh kekuatan asing, seperti kasus Pangeran Diponogoro, Perang Padri, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin dan Patimura serta peristiwa Dayeuh Kolot dan Resulusi Jihad.





