Sri-Bintang Pamungkas
Banyak orang Indonesia sudah membaca Novel Alexander Dumas yang berjudul “Tiga Orang Panglima Perang” (The Three Musketeers). Tetapi tidak banyak yang membaca buku kelanjutannya, “20 Tahun Kemudian”. Itu adalah cerita tentang kesetiaan tiga plus satu tokoh Tentara Pengawal Raja Perancis yang setia kepada Junjungannya, Raja dan Ratu. Kisah itu terjadi pada jaman awal 1600an, pada masa Raja Louis XIII. Aku membaca kedua buku itu pada waktu SMP. Bukunya pun masih dalam ejaan lama.
Buku pertama bercerita tentang tiga Musketeers, Atos, Portos dan Aramis ditambah satu tokoh muda sentral dalam Novel itu, Dartanyan (d’Artagnan) yg membela Raja dan Ratu yang dimusuhi oleh Perdana Menterinya Richeliu, karena cintanya kepada sang Ratu tak berbalas.
Alkisah sang Ratu juga memadu kasih dengan seorang Calon Raja Inggris di Istana Buckingham. Maka sang Ratu Perancis ini memberikan kenang-kenangan seuntai Permata, hadiah yang didapatnya dari Sri Raja. Ditugasinyalah keempat Pengawal Raja itu untuk mengambil kembali Permata itu, sebelum acara bertemu Raja berlangsung. Misi mengambil kembali Permata tersebut dihalangi oleh seorang perempuan cantik tapi kejam, Milady, yg dikirim oleh Richeliu. Misi Dartanyan dan kawan-kawannya berhasil dan Milady dihukum pancung oleh seorang Algojo.
Dalam buku 20 Tahun Kemudian diceritakan, bahwa ternyata Milady masih hidup karena keburu terjun ke laut. Rupanya Atos jatuh hati dan sempat memadu kasih dengan Milady. Milady melahirkan anak Atos, lelaki yang diberi nama Mordaunt. Di usianya yang 20 tahun, Mordaunt bermaksud membalaskan sakithati Ibunya, Milady. Di dalam sebuah duel di dalam laut, Mordaunt tertikam mati oleh Ayahnya sendiri, Atos.
Banyak kisah yang diceritakan orang mengambil tema peristiwa “20 Tahun Kemudian”. Salahsatu di antaranya adalah kisah Yoko dan Siauw Liong Lie, yang dipertemukan kembali menjadi suami-isteri setelah 20 tahun berpisah. Keduanya malang-melintang di dunia Kangouw menegakkan keadilan dan kebenaran.
Demikian pula kisah Amerika Serikat yang tentaranya lari terbirit-birit dari Afghanistan, dengan meninggalkan milyaran Dollar Alat-alat Perang canggih, setelah menduduki Kerajaan Islam itu pada 2001 selama 20 tahun mengakibatkan pengungsian penduduk mencari tempat perlindungan baru.
Dan 20 tahun kemudian Afghanistan terpuruk dengan kemiskinan dan kelaparan serta Bom-bom Kelompok ISIL (Negara Islam Irak dan Syria) meledak di Masjid-masjid mengakibatkan pertumpahan darah di mana-mana. Begitulah memang AS dan negara-negara Aliansinya di Eropa dalam kelompok NATO. Tidak jelas untuk apa menduduki Afghanistan selama itu. Tentunya selama itu mereka membunuhi ribuan orang Afghanistan dan jutaan lainnya menjadi imigran.
Sekalipun sudah kalah perang dan pergi, mereka berhasil membuat perpecahan di kalangan penduduk, persis seperti penjajah Belanda yang melakukan politik Devide et impera di Indonesia pada masa lalu. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton membongkar rahasia, bahwa ISIL sengaja dibikin AS untuk menimbulkan perang saudara di antara orang-orang Islam di Dunia. Lebih hebatnya lagi berbagai kerusakan, kematian dan perpindahan penduduk itu tidak satu pun diperdengarkan akar permasalajannya kepada Dunia, sehingga banyak negara dan orang masih saja mendukung dan mengharapkan bantuan AS dan Barat, sebagai Superpowers.
Volodimyr Zelensky, presiden Ukraina sekarang, juga masih mengira AS adalah negara cinta damai yang bisa diharapkan bantuannya dalam hampir semua hal. Padahal Zelensky yang adalah seorang Aktor dan sekaligus Pelawak, sangat mungkin ilmunya menata negara tidak lebih baik daripada Jokowi, sahabatnya sesama presiden yang juga suka melawak. Ternyata kesamaan itu tidaklah terlalu meleset. Sekalipun demikian, sebagai aktor pelawak, Zelensky mempunyai keahlian berbicara sebagai orator yang bisa menggerakkan orang untuk tertawa dan menuruti jalan pikirannya. Tetapi tetap saja peta politik kenegaraan harus dipelajarinya lewat pengalaman.
Begitu terpilih menjadi Presiden Ukraina, Zelensky berangkat ke Washington, DC, sementara Jokowi berangkat ke Beijing. Kelihatan, bahwa Zelensky butuh pengalaman membaca peta politik untuk menyampaikan permintaannya kepada Donald Trump. Pada 2020 itu Zelensky meminta bantuan senjata kepada Trump untuk menghadapi Rusia. Tentu saja Trump menolaknya, karena justru Putin yang membantunya menang dalam Pilpres. Trump menjawab: “Lu baik-baiklah sama Putin… Belajarlah agar bisa bekerjasama…!”
Ketika DPR Amerika Serikat yang memeriksa Trump gegara kecurigaan atas kedekatan Trump dengan Putin, bahkan kemungkinan Trump meminta bantuan Putin untuk menang di Pilpres 2019 secara tidak jujur, Trump pun menghadapi impeachment. Demikian pula ketika Dutabedar AS untuk Ukraina membocorkan rahasia ancaman Trump menunda bantuannya kepada Ukraina seandainya Zelensky tidak mau membantu Trump menutupi kebenaran. Maka Dutabesar perempuan itu pun dipecat Trump.
Sekarang Rusia betul-betul marah kepada Ukraina karena Zalensky yang masih ingusan itu berani menantang Rusia dengan permintaannya untuk masuk menjadi anggota NATO. Untung sejauh itu Perancis dan Jerman masih menolaknya. Tetapi karena kenekatannya, Putin mendahului menyerbu Ukraina. Putin ingin Rusia aman dari NATO dengan menuntut Ukraina secara resmi melepaskan Crimea dan wilayah-wilayah yang mau memisahkan diri; tidak membangun kekuatan militer berlebihan; netral dari NATO; dan tidak melarang penduduk Ukraina untuk menggunakan bahasa Rusia.
Zelensky memang tidak tahu diri. Padahal Ukraina yang cukup luas, dibanding dengan negara-negara Uni Eropa umumnya itu, kekuatan perangnya berasal dari Rusia juga, semasa keduanya masih menyatu dalam Uni Soviet Sosialis Rusia. Dengan kemampuannya sebagai Aktor Panggung, Zelensky malahan mengobarkan api Perang di Uni Eropa, Inggris dan AS dengan meminta bantuan senjata-senjata berat. Rusia pun membombardir hampir seluruh bagian Ukraina dengan Bom dan Peluru Kendali. Ukraina hancur.
AS, Inggris dan Uni Eropa pun membalas Rusia dengan berbagai macam sangsi, termasuk sangsi Daftar Hitam terhadap pribadi-pribadi politik dan swasta Rusia. Rusia pun membalas dengan menyetop pasokan Gas dan Minyak ke Uni Eropa. Harga minyak mentah Dunia naik menjadi lebih 100 DPB. Biji-bijian Pangan yang dipasok Ukraina ke Eropa pun terhenti. Terjadilah inflasi dan krisis energi di AS dan Uni Eropa, juga Dunia. Kelangkaan pangan terjadi di mana-mana negara. Situasi kacau ini pun dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para China Konglomerat Pengkhianat di Indonesia. Indonesia pun menjadi langka BBM, minyak goreng dan Sembako.
Tetapi Inggris, AS dan Jerman akhirnya termakan oleh Demam Panggung Zelensky. Mereka mau membantu Ukraina dengan puluhan milyaran Dollar senjata dan bantuan ekonomi serta kemanusiaan. Hanya Israel yang ogah membantu Yahudi Ukraina yang mempunyai jiwa Nazi itu. Apalagi Rusia dan Iran ikut mengancam Israel.
Sangat mungkin pembunuhan ratusan orang-orang sipil Ukraina di kota Bucha dan beberapa kota lain dekat Ibukota Kiev dilakukan sendiri oleh perintah Zelensky untuk mendramatisir serbuan Rusia. Yang jelas, ribuan orang sipil yang terperangkap di Pabrik Baja di Kota Mariupol adalah sengaja dilakukan Zelensky agar Rusia tidak menyerang pabrik baja tempat sembunyi tentara-tentara Ukraina. Yang dijadikan perisai adalah ratusan ribu orang sipil itu. Mereka dicegah mengungsi, padahal evakuasi bisa dilakukan jauh hari sebelumnya. Ini adalah taktik provokasi Zelensky untuk membangkitkan kemarahan Dunia.
Tapi Dunia tidak marah kepada Rusia, demikian pula Dunia Islam. Seperti halnya Afghanistan yang dikoyak-koyak selama 20 tahun oleh AS dan NATO, juga Irak, Libya serta Syria dihancurkan setelah dikuras minyak mereka. Jutaan orang, lelaki, perempuan dan anak-anak menjadi pengungsi di negara-negara lain. Mereka ditinggal begitu saja dalam keadaan terkoyak-koyak. Sama seperti kehancuran Yaman oleh Saudi Arabia dan kehancuran Palestina oleh pendudukan Israel yang didukung AS dan Barat selama puluhan tahun.
Penghancuran Ukraina oleh Rusia dan balabantuan dari NATO kepada Ukraina kiranya adalah sebuah contoh pembalasan Rusia atas kekejaman AS di mana-mana sejak Perang Vietnam bersama Aliansi Baratnya dan berbuat tidak adil. Mereka berbuat sewenang-wenang, serta zalim terhadap Islam, Asia dan Afrika dengan mengalirkan darah dan melakukan kerusakan di Muka Bumi, persis di bawah hidung Persatuan Bangsa-Bangsa juga. Secara nyata PBB tidak pernah membantu mereka, selain ikut menambah perusakan.
Joe Biden telah gelap mata karena terdorong oleh keinginannya untuk menguasai Dunia dengan mencoba senjata mutakhirnya, dan menggunakan Ukraina sebagai kelinci percobaan. Dia lupa di negaranya sendiri Partai Republik sedang mengincar kejatuhannya. Zelensky sendiri bermimpi akan menang perang. Dan kalaulah AS akan ikut berperang, maka Ukraina dan Eropa akan hancur pula.
Maka sesungguhnya yang menjadi Biang Keladi Perang yang korbannya Rakyat Sipil, tidak lain adalah Zelensky… Dia benar-benar mewarisi jiwa Nazi Jerman yang tega mengorbankan rakyat sendiri, padahal tahu tidak akan menang perang. Kanselir Jerman Frau Merkel yang menang 4 periode, lebih bijaksana daripada penggantinya. Merkel adalah pemimpin Barat pertama yang mau menerima satu juta imigran Afrika dan Timur Tengah korban perang dan kemiskinan.
Sedang Olaf Scholz, pengganti Merkel, ikut terjebak dengan janji mengirim senjata beratnya ke Ukraina. Mungkin dia tidak ingat bagaimana AS memperlakukan Jerman tempat lahirnya Nazi, sebagai “jongos” selama 80 tahun sejak kalah Perang Dunia sampai sekarang.
Jokowi di lain pihak lebih gila lagi daripada Zalensky… Sama-sama pelawak yang suka manggung dan tukang bohong, dan sama-sama tega mengorbankan rakyat sendiri… Tapi Jokowi tidak saja mau mengganti Islam dengan Komunis… Bahkan mengundang tentara Cina Komunis untuk menjajah dan menghancurkan Rakyat Indonesia. Ratusan ribu orang tewas di tangan Jokowi, seratus jutaan sekarat karena melarat, akibat ambisi politiknya…
Kalau para Panglima Perangnya Alexander Dumas bersemboyan Satu untuk Semua dan Semua untuk Satu” Jokowi kita bersemboyan “Satu untuk RRC dan Semua untuk RRC” Bak Saudara Kembar, baik Zalensky maupun Jokowi sama-sama tidak akan berhasil, dan keduanya akan jatuh.
Jakarta, 1 Mei 2022
*@SBP*





