INDONESIA PASCA JOKOWI: Dances with Wolves (10) Sebelas Maret: Kudeta-Kudeta Warisan Orde Baru

0
890

Sri-Bintang Pamungkas

Ketika aku diberitahu Isteri anakku paling kecil mau melahirkan di Klinik Persalinanan Basra, Kota Jakarta Timur, aku masih bertanya-tanya di mana Basra; apa itu Basra. Setelah mencari-cari, baru aku tahu Basra itu singkatan dari Basuki Rahmat. Nama itu dijadikan nama Jalan di mana Klinik Basra berada.

Basuki Rahmat adalah salahsatu Jenderal dari tiga Jenderal yang berasal dari siapa Surat Perintah 11 Maret lahir pada tahun 1966. Dua Jenderal yang lain adalah Amir Machmud dan M. Jusuf. Yang sungguh aneh, nama kedua Jenderal itu tidak diabadikan sebagai nama jalan di DKI Jakarta. selain Basuki Rahmat. Jalan Amir Machmud adanya di Cimahi; dan nama Jalan M Jusuf adanya di Makasar. Ketiga Jenderal itulah yang paling tahu isi Asli dari SP 11 Maret 1966 itu. Konon, kekhususan Jenderal Basuki Rahmat yang lain adalah dia satu-satunya Jenderal dari ketiganya yang pertamakali meninggal karena dibunuh. Wallahualam.

Sementara itu gelombang demonstrasi mahasiswa terus berlangsung selama bulan-bulan Maret dan April. Dibentuklah Kontingen Mahasiswa Bandung Raya yang lalu berangkat ke Jakarta dalam upaya membangun Poros Mahasiswa Jakarta-Bandung. Mereka bermarkas di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, agar bisa bersama-sama berjuang di Jakarta. Termasuk yang berangkat dalam Kontingen Pertama dari ITB ini adalah @SBP. Mahasiswa mendesak semakin perlunya SI-MPRS diselenggarakan.

Soeharto masih menunggu satu tahun sebelum berbuat sesuatu. Sementara itu Soeharto bersama Soekarno membentuk Kabinet Ampera pada 25 Juli. Soeharto pun ditetapkan menjadi Ketua Presidium Kabinet Ampera, yang tidak lain adalah jabatan Kepala Pemerintah Sementara. Sekalipun pada 20 Januari 1967 Soekarno sudah bersedia menyerahkan kekuasaan eksekutif kepada Soeharto, desakan untuk meresmikannya di dalam SI-MPRS terus berlanjut.

Diawali oleh Memorandum Ketua DPR-GR Achmad Syaikhu, akhirnya SI-MPRS dibuka pada 7 Maret 1967. Sejumlah anggota MPRS yang PKI dan menentang Soeharto telah diganti sebelumnya berdasarkan SP 11 Maret. Pada tanggal 12 Maret 1967 SI-MPR itu selesai dan ditutup dengan penjelasan, bahwa Soeharto ditetapkan menjadi Penjabat Presiden RI terhitung mulai tanggal 11 Maret 1967.

Kehadiran Soeharto ini didukung secara terbuka oleh Amerika Serikat dan Sekutunya di Dunia selama 30 tahun. Mereka membiarkannya terpilih terus dalam setiap Pilpres sebagai Calon Tunggal. Selain oleh ABRI, Soeharto juga didukung oleh Kelompok Khusus Milisia Sembilan Naga Etnis Cina Indonesia (ECI) yang dalam perilakunya selalu ikut “menempel” para petinggi RI, khususnya jenderal-jenderal Angkatan Bersenjata, untuk mendapatkan kekuasaan dan perlakuan khusus dalam bisnis. Soeharto jugalah yang pada akhirnya membesarkan mereka menjadi Konglomerat-konglomerat Cina Indonesia.

Syahdan, Bill Clinton marah kepada Soeharto gara-gara Timor-Timur tidak bisa segera dikuasai RI sesudah 23 tahun Perang. Tokoh Sembilan Naga Kongglomerat Indonesia James Riady diajak bekerjasama menjatuhkan Soeharto. Jadilah Krisis Moneter. Mahasiswa pun bergolak. Universitas Trisakti menjadi tumbal. Empat orang Mahasiswa ditembak mati pada 12 Mei. Seperti Operasi Mawar, kemungkinan penembaknya adalah orang-orang Prabowo juga. Trisakti berkabung. Jakarta dibakar esok harinya.

Universitas Indonesia juga berkabung. Para tokohnya mengadakan Simposium Tatanan Masa Depan Indonesia pada 14 Mei, mengambil tema isi Kartu Lebaran Politik Sri-Bintang Pamungkas 1996. Dua hari kemudian Rektor UI bersama para Gurubesarnya, dengan jurubicara Profesor Miriam Budihardjo menghadap ke Istana Cendana meminta Soeharo mundur. Soeharto tidak menjawab.

Soeharto bingung. Dipanggillah para Ulama dan Tokoh-tokoh Islam ke Istana Merdeka pada 19 Mei. Ada Gusdur, Cak Nur, Cak Nun, banyak Ustadz dan Ustdzah, termasuk Hajah Tuti Alawiyah, para Kyai, termasuk Kyai Ali Yafie, para Ulama dan Habaib, tentunya termasuk Kyai Sejuta Umat Zainuddin MZ, para Tokoh Muhammadiyah dan dari Pesantren NU serta tokoh-tokoh ICMI. Tapi belum ada UAS, Habib Riziek Syihab, UBN, Bahar bin Smith, Luthfi Basofi dan lain-lain yang masih pada belajar menjadi tokoh.

Amien Rais mungkin sedang bikin persekongkolan dengan Arifin Panigoro. Sedang @SBP sendiri masih ngendon di Cipinang. Tapi ada Yusril Ihza Mahendra yang sedang berpikir keras mencari kesempatan. Tidak tahu apa persisnya yang dibicarakan Soeharto dengan para Tokoh Islam itu, tiba-tiba Nurcholis Majid bersama Yusril keluar dari dalam dan menjadi Jurubicara. Cak Nur bilang:

“… Pak Harto mau membentuk Kabinet Reformasi dan Dewan Reformasi Nasional….”

Tanpa ada yang menyuruh, Yusril dengan gaya sengak “nyeletuk” tentang Gerakan Mahasiswa:

_”… baru jadi mahasiswa sudah sok berkuasa, apalagi kalau nanti berkuasa…”_

Sore keesokan harinya tersebar isyu, 14 Menteri mengundurkan diri dan menolak masuk menjadi anggota Kabinet Reformasi. Konon mereka dikoordinir oleh Ginanjar Kartasasmita, Menteri ESDM RI, mantan Ketua Bappenas RI. Tidak ada yang aneh, selain AM. Hendropriono, satu-satunya orang TNI. Ginanjar menyampaikan pesan kepada Habibie agar perihal itu diberitahukan kepada Pak Harto.

Malam harinya, sekitar pukul 20:30, Rabu, 20 Mei, Soeharto berdua empat mata dengan Wakil Presiden Habibie ada di Istana Cendana:

… (Bie)… Besok akan saya umumkan Kabinet Reformasi. Habibie harus dampingi saya sebagai Wapres. Hari Jumat mereka akan saya lantik; Habibie harus ikut. Hari Sabtu saya akan undang DPR ke Istana Merdeka, dan pada saat itu saya akan sampaikan rencana pengunduran diri saya...”

Sesudah itu kamu bisa bentuk kabinet lagi; saya tidak akan ikut menyusunnya.”

“Saya tanya, Pak… Kapan saya jadi Presiden itu?”

“Terserah keadaan! Bisa hari Senin, atau satu minggu lagi, atau bisa sebulan lagi…. Terserah!”

Rupanya Habibie tidak pernah menyampaikan pesan Ginanjar agar memberitahu bahwa 14 Menterinya tidak bersedia duduk dalam Kabinet Reformasi.

Di rumah Habibie seperti biasa, tamu-tamu sudah penuh. Kebanyakan mereka dari ICMI. Mungkin sebagian adalah para menteri yang menyatakan mundur. Menjelang tengah malam tilpun berdering dari Menteri Sekneg Saadilah Mursyid, memberitahu agar Habibie esok hari Kamis, 21 Mei datang ke Istana. Ternyata Soeharto berubah pikiran. Soeharto memutuskan mundur. Lalu melantik Habibie menjadi Presiden RI ke Tiga.

Koran the New York Times, May 21, 1998, esok harinya, menulis:

“…the Secretary of State Medeleine Albright called Wednesday for President Soeharto to ‘preserve his legacy’ by permiting a democratic trandition, an implicit call for him to step down…”

Dari mana Bill Clinton tahu, kalau Soeharto tidak mau mundur?! Dari Habibiekah?! Atau siapa yang menguping “pertemuan empat mata” di Istana Cendana itu?!

Pada akhirnya warisan kudeta Soeharto berlanjut dengan beberaoa Kudeta dan Rencana Kudeta… Ada Kudeta Konstitusi dengan membikin UUD Palsu, ada Kudeta dengan menghidupkan PKI, mengundang Tentara Merah Cina, menunda Pemilu, membikin Istana Baru. dan apa lagi?! Di belakang itu semua selalu ada Asing dan Asengnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here