Peluang Di Tengah Krisis

0
236

Sekarang, kita semua pasti dalam keadaan cemas. Corona tidak hanya mengintai kita secara fisik. Corona juga membuat suasana ketidakpastian dalam berbagai dimensi. Terutama ekonomi. Kota-kota menjadi sepi. Bandara sepi. Mall-Mall sepi, hotel, restoran sampai warung makan menjadi tak seperti biasa.

Pasar saham apalagi. Awal tahun IHSG mencatat angka di atas 6000. Sampai jumat 13 Maret kemarin, IHSG sudah terjun bebas di bawah 5000.

Mengapa pasar saham turun signifikan? Karena banyak investor terutama yang retail melakukan ‘panic selling”. Mereka menjual sahamnya dan beralih ke instrument investasi lain seperti emas atau menabung di bank. Sebagai penabung saham, saya juga merasakan dampaknya. Portofolio saya yang dulu biru nan indah menjadi merah membara. Nilainya turun signifikan tapi tetap kondisi ini bukanlah kerugian. Anggap saja harga rata-rata saham BBRI saya 4000. Pada closing jumat kemarin harganya 3720 rupiah, berarti perlembar saham nilai portofolio berkurang 280 rupiah atau 7 persen. Turun 7 persen bukan berarti rugi 7 persen selama saya belum menjual saham tersebut. Tindakan saya mendiamkan saja, sampai kondisi membaik dan pasti saham BBRI akan kembali recovery mengingat secara fundamental emiten ini sangat kuat.

Lantas apa yang harus diperbuat dalam kondisi seperti ini? Ada dua sikap yang saya ambil. Pertama, investasi saham yang berorientasi jangka panjang dihentikan dulu dan baru masuk lagi setelah pasar sudah menunjukkan tanda tanda rebound. Kedua, saya mencoba menjadi day trader dengan mengkombinasikan pendekatan fundamental, teknikal dan sentimen. Alhamdulillah, pada penampilan perdana sebagai trader pada hari jumat kemarin bisa cuan lumayan di saham BBRI, ICBP dan Wijaya Karya.

Teman-teman, jangan ragu untuk menjadi investor di pasar saham. Modal tidak jadi soal, cukup buka rekening di salah satu sekuritas dan beli 1 lot saham (100 lembar). Teman-teman, jika pada Tahun 2003 yang lalu kita membeli 1 lot saham BRI dengan harga RP. 87.500 (875 perlembar), maka pada awal 2020 nilai saham kita sudah meningkat 5000 persen atau 50 kali lipat menjadi Rp. 4.375.000. Bayangkan modal delapan puluh tujuh ribu rupiah menjadi empat juta lebih. Bayangkan jika modalnya 10 juta sudah menjadi 500 juta dalam waktu 16 tahun.

Saya dan sebagian besar rakyat Indonesia selama ini tidak bisa menikmati peluang tersebut karena kita semua miskin informasi hingga menjadi bodoh.

Sekarang, saya dan teman-teman tidak boleh bodoh lagi. Mumpung lagi diskon, mari kita cicil mulai dari satu lot saham perusahaan-perusahaan terbaik di negeri kita. Beli saat murah dan jual nanti setelah naik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here