SUARA KRITIS KARTU KUNING MAHASISWA UI, SUARA KRITIS KELAS MENENGAH PERKOTAAN

0
980

Aksi Kartu Kuning Ketua BEM UI di hadapan Presiden Jokowi sesungguhnya berbarengan dengan suara kritis Aliansi BEM UI, BEM FKM UI, BEM Psikologi UI, BEM FF UI, BEM FIB UI, BEM FMIPA UI, BEM FKG UI, BEM FIA UI, BEM Fasilkom UI, dan BEM Vokasi UI. Mereka semuanya mahasiswa UI.

Suara kritis mahasiswa UI terhadap Rezim Jokowi ini merupakan produk dan cerminan suara kritis kelas menengah perkotaan. Posisi mahasiswa UI adalah bagian dari kelas menengah perkotaan dan mendapat dukungan dari kelas menengah perkotaan. Adalah sangat keliru pendapat pendukung buta Jokowi bahwa aksi Kartu Kuning mahasiswa UI ini tidak dapat mempengaruhi rakyat. Peran suara kritis mahasiswa memang bukan untuk mempengaruhi rakyat, tetapi merealisasikan dan mengekspresikan suara kritis rakyat, terutama kelas menengah perkotaan. Apa bukti suara kritis mahasiswa juga suara kritis kelas menengah?

Terlalu banyak bukti dapat digunakan bersumber dari media massa dan media sosial menunjukkan dukungan terhadap suara mahasiswa UI tsb. Beberapa bukti dapat disajikan sebagai berikut:

Pertama, kita dapat menemukan penggunaan simbol atau lambang Kartu Kuning di sejumlah WAG seperti pada WAG:
1. Vivera Pericoloso
2. Peduli Negara
3. Kebangkitan Pribumi
4. Indonesia Pusaka;
dll. Anggota WAG ini umumnya mereka dari kelas menengah perkotaan dan memiliki daya kritis terhadap Rezim Jokowi.

Kedua, mantan Aktivis Mahasiswa 77/78 Indra Adil (Alumnus IPB) dan Setya Dharma (Alumnus UNPAD), keduanya bukan Alumnus UI, memprakarsai Petisi terkait aksi Kartu Kuning mahasiswa UI.

Melalui Petisi ini, para Alumni Perguruan Tinggi di Indonesia, menyatakan berdiri di belakang M. Zaadit Taqwa, yang telah menyuarakan amanat akal sehat rakyat melalui sebuah Kartu Kuning yang diberikan kepada Presiden Jokowi.

Siapa pun Alumni Perguruan Tinggi di Indonesia, yang mendukung tindakan Ketua BEM UI ini, dipersilahkan untuk mengisi form yang diedarkan melalui medsos.

Lebih 200 nama dari kelas menengah perkotaan telah mengisi form Petisi melalui Media Sosial. Beberapa diantaranya: Agus Maksum (ITS), Mahfudz Ali (UGM),Purnama Puri (UGM), Amir UGM, Sofyan Sinambela (UGM), Yusri Usman- (UGM), Dindin S Maolani (Unpad), Akhmad Syarbini (ITB),Sri Bintang Pamungkas (ITB), Iwan DG (ITB) Ichanuddin Noorsy (UI), Fahri Hamzah (UI), Fadli Zon (UI), Soekotjo Soeparto (UI), Toba (UNJ). Dicky -(UNJ), Mintarsih (IPB),
Apriyanto Ramadhan ( Universitas Tanjungpura),
Eko Witono (IKIP Negeri Yogyakarta), Ratih Permanasari (UNIBRAW),dll.

Ketiga, DPP Partai Amanat Nasional (PAN) akan menggelar forum diskusi publik dalam rangka merespon berbagai issu nasional dan aktual.

Diskusi publik DPP PAN ini mengambil JudulĀ : “Kartu Kuning dan Gerakan Mahasiswa Zaman Now”. Acara akan diselenggarakan pada Rabu, 7 Februari 2018, pk.15.00 -17.00 Wib,di Kantor DPP PAN
Jln. Senopati no 113
Jakarta Selatan.

Nara Sumber akan tampil direncanakan:
1. Rocky Gerung ( Pengamat Politik UI );
2.Ganjar L Bondan
( Pakar Hukum Pidana UI );
3. Chusnul Mar’iyah
( Dosen Ilmu Politik UI )
4. Chandra Tirta Wijaya
( Mantan Aktivis Mahasiswa UI / Pengurus DPP PAN );
5. BEM UI dan BEM UIN (Dalam konfirmasi). Moderator yaitu Yasmin Muntaz. Sedangkan Pengundang Diskusi Publik ini adalah Hanafi Rais, Ketua KPPN DPP PAN.

Bukti-bukti dukungan dan kesamaan suara kritis mahasiswa UI dengan kelas menengah perkotaan masih dapat ditelusuri dari komentar dan opini aktor-aktor politik ekonomi di beragam media. Kita akan menemukan terus suara kritis melalu resonansi suara kritis mahasiswa UI di seantero Republik ini (Tim Redaksi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here