Ma RI wa La RI

0
725

CATATAN REDAKSI: Tulisan berikut ini merupakan pemikiran kritis Emha Ainun Najib yang bergaya puitis disampaikan dalam forum memperingati 44 Tahun Malari sekaligus merayakan 18 Tahun Indonesia Democracy Monitor di University Club Kampus Bulak Sumur UGM Yogyakarta, 15 Januari 2018.

Ma RI wa La RI

Disingkat: MALARI

Satu

Tidak ada Malapetaka 15 Januari

Gerakan 15 Januari adalah shock theraphy

Untuk RI yang sudah mulai parah penyakitnya

Malari adalah nomenklatur diagnosis penguasa

Yang tidak merasa sakit dengan penyakitnya

Yang merasa sehat dalam sakitnya

Dua

Dalam Bahasa Arab

Ma artinya Tidak

Kalau untuk kata kerja lampau

Ma artinya Bukan

Kalau ketemu kata benda

Baik yang kongkret maupun abstrak

La artinya juga Tidak

Untuk kata kerja sedang atau sekarang

Malari berarti dua kali tidak RI

Dan satu kali bukan RI

Tidak RI konteksnya Waktu

Bukan RI spektrumnya Ruang

Tidak RI artinya tidak mengerjakan sesuatu

Yang menandakan bahwa ia RI

Bukan RI artinya karena tidak pernah bekerja

sebagai RI, dengan RI dan untuk RI

Maka akhirnya ia benar-benar

Menjadi bukan RI

Tiga

Bukan RI Bahasa Arabnya Ma RI

Tidak RI Bahasa Arabnya La RI

Jadi, Ma RI wa La RI

Ia bukan RI, karena melihat perilakunya

Tak ada tanda-tanda bahwa ia adalah RI

Melihat kerja mesin akalnya

Tidak ada indikator bahwa ia adalah RI

Melihat pendek jangkauan pikirannya

Melihat dangkal internalisasi intelektualnya

Melihat pendek pencapaian rasionalnya

Sama sekali tidak tercermin bahwa itu RI

Apalagi melihat selera artistiknya yang sangat rendah

Di dalam memilih pemimpin

Melihat terlalu gampangnya ditipu

Terlalu rentannya terhadap disinformasi

Terlalu mudahnya untuk kagum dan terpesona

Terlalu ringkihnya ditelan oleh pencitraan

Terlalu kerdilnya diperdaya oleh pemalsuan

Empat

Apalagi melihat semakin lemahnya mental mereka

Melihat ringkihnya jiwa mereka

Dari Sihir-sihir Nasional

Dari Gendam dan Sirep Global

Melihat sinismenya yang levelnya sakit jiwa

Terhadap kebaikan, kesucian dan ketulusan

Tidak mungkin itu adalah RI

Itu pastilah Ma RI wa La RI

Apalagi melihat penolakannya yang mendalam

Terhadap kebhinnekaan

Penolakan diam-diam maupun terang-terangan

Pernyataan penerimaan yang muatannya adalah penolakan

Ekspressi keutuhan dan kebersamaan

Yang isi dalamnya adalah kebencian dan permusuhan

Melihat situasi semakin tidak saling percaya

Antar manusia, kelompok dan lembaga-lembaga

Melihat semua orang tidak lagi bisa percaya

Karena setiap orang memang semakin tak bisa dipercaya

Setiap pemegang mikrofon di panggung berteriak lantang

Saya Indonesia, saya untuk Indonesia

Dan yang ia lakukan adalah Indonesia untuk saya

Kami abdi rakyat, kami bekerja untuk rakyat

Dan praktek sehari-harinya adalah

Merampok Indonesia untuk golongannya

Lima

Apalagi melihat pemalsuannya yang habis-habisan

Terhadap Persatuan dan Kesatuan

Manipulasi pemahaman terhadap pembangunan

Tipudaya pengertian tentang kemajuan

Anak-anak cucu-cucu yang belum lahir

Dicampakkan ke dalam jurang hutang

Undang-undang dan peraturan diciptakan

Untuk mempermudah dan melegalisir perampokan

Alkisah, kon, syahdan, itu bukanlah RI

Itu pasti Ma Ri wa La Ri

Belum lagi tiang listrik pun ditabraknya

Teknologi pencurian tak terjangkau oleh Ilmu Dunia

Strategi perampokan tak terpahamkan

Oleh ilmu pengetahuan sampaipun yang paling garda depan

Syariat kemunafikan

Thariqat hipokrisi

Makrifat kemusyrikan

Terhadap matematika yang suci

Terhadap rasionalitas yang sakral

Tak pernah dibayangkan dan disimulasi

Bahkan oleh Malaikat maupun Setan

Iblis-iblis berpakaian Malaikat

Setan-setan berkostum JIbril

Sesekali pakai kaos oblong supaya tampak Mikail

Terkadang pakai sandal jepit agar kelihatan seperti Isrofil

Di saat lain masuk got sehingga bagaikan Izroil

Nilai-nilai dijungkir-balikkan

Jumlah korupsinya trilyunan kali lipat

Dibanding yang direkomendasikan oleh Setan

Sampai akhirnya Sang Iblis, Panglima Setan

Mengajukan pensiun dini. Sebab tahu diri

Ukuran godaan mereka kepada manusia

Untuk berbuat jahat, lalim dan busuk

Sudah jauh dilampaui oleh Ma RI wa La RI

Bahkan korupsinya sudah jauh merajalalela

Sebelum proposal Iblis dan Pasukannya

Diajukan kepada manusia

Mustahil itu adalah RI

Pasti ia adalah Ma RI wa La RI

Enam

Senja semakin lingsir memasuki keremangan

Pagi beranjak siang, siang memanjat sore

Senja menyodorkan dirinya ke mulut kegelapan

Tetapi fajar membuntutinya

Cahayanya semburat di kerudung rahasia

Hidup adalah pergiliran kematian

Diiringi oleh menetasnya kelahiran

Kebanyakan orang berduyun-duyun memasuki kuburan zaman

Bersamaan dengan sedikit orang lainnya

Yang dilatih untuk mempersiapkan kelahiran

Tak ada yang memperhatikannya

Tak ada yang berani membayangkannya

Tak ada yang nekad memimpikannya

Tak ada yang melihatnya

Tak ada yang menemukannya

Juga tak ada yang mempercayainya

Tapi Maha Sutradara Jagat Raya

Telah melahirkannya

Dengan dua bekal di kandungan jiwa dan aliran darahnya

Yakni mereka dilahirkan karena Tuhan mencintainya

Dan Tuhan menuntun karena mereka pun mencintai Tuhannya

Hakekat Ma RI wa La RI adalah ambruk

Syariat Ma RI wa La RI adalah jebol dan terpuruk

Thariqat RI sejati adalah kelahiran

Makrifat RI yang benar-benar RI adalah kebangkitan

Tujuh

Kemarin malam saya sowan kepada Ratu Saba di Gunung Dieng

Tidak diterima. Malah yang menemui saya adalah Jin Ifrith

Saya juga sowan ke Ratu Shima di Kawah Merapi

Yang keluar menerima saya malah Basiyo

Tidak putus asa. Saya sowan ke Bu Ken Dedes

Yang cantik jelita bagaikan Ibu Pertiwi

Yang sepanjang hidupnya diperistri secara paksa

Diperkosa secara bergiliran

Sebagaimana nasib RI yang terlunta-lunta menjadi Ma RI wa La RI

Tetapi yang membukakan pintu Kerajaan Barzakh

Malah Asmuni

Asmuni bin Asfandi, keturunan Ki Tebuireng

Yang dulu dicabut ilmunya dan dimaiyahkan oleh Mbah Kik Ronopati

Tak masalah. Saya manusia RI. Profesi saya adalah memanggul masalah

SOP hidup saya adalah mengatasi masalah dengan cara menambah masalah

Regulasi utama karier saya adalah berjuang untuk menjadi manusia masalah

Kewajiban utama saya adalah memilih pemimpin yang bermasalah

Kemudian memilih lagi pemimpin yang lebih bermasalah

Lantas mengangkat pemimpin lagi yang ahli masalah

Berikutnya melantik masalah itu sendiri menjadi pemimpin tertinggi

Jadi perjumpaan saya dengan Jin Ifrith, Basiyo dan Asmuni

Bagi saya bukan masalah, tetapi saya permasalahkan

Delapan

Saya bertanya kepada Jin Ifrith

Apa pendapat Bu Ratu Saba tentang RI

Saya bertanya kepada Mbah Basiyo

Apa pandangan Ratu Shima tentang RI

Dan saya bertanya kepada Asmuni

Bagaimana Bu Ken Dedes melihat RI

Jawaban mereka bertiga ternyata sama persis:

“Mongso bodho-o

Kerang kok nganggo blangkon

Wis gerang-gerang kok takon”

Tiba-tiba ada suara menyusul jawaban itu:

“Antum a’lamu biumuri dunyakum”

Saya menoleh ke arah sumber suara itu

Ya ampun. Ternyata Sunan Tuban. Syekh Malaya

Pangeran Abdurahman. Brandal Lokajaya

Saya taklim dan ngapurancang

“Sendiko, Kanjeng Sunan”, kata saya

“RI yang paling tahu urusan RI

Tak ada gunanya RI Zaman Now bertanya kepada RI Zaman Old

RI sudah mantap dengan takabur Republiknya

RI sudah yakin dengan pura-pura Pancasilanya

RI sudah gagah perkasa dengan pemalsuan Demokrasinya

Dan lagi yang bertanya kepadaku adalah kamu

RI tidak pernah bertanya apa-apa kepadaku

RI tidak butuh pertanyaan, apalagi jawaban

RI tidak punya stok pertanyaan

Sehingga tidak pernah membutuhkan jawaban…”

Sembilan

Saya coba membantah: “Saya bertanya sebagai RI, Kanjeng Sunan”

“Tetapi RI kan bukan kamu. RI tidak mengenalmu

RI tidak mendengar suaramu. Apalagi melihat wajahmu

Bagi RI kamu tidak ada

Jangankan kamu. Bagi RI Tuhanpun tak ada

Yang ada adalah Ketuhanan

Bagi RI apapun saja tidak ada

Kecuali nafsu dan keserakahannya sendiri

Serta barang-barang dan harta benda yang dirakusinya

Bagi RI tak ada Tuhan, Malaikat atau Nabi

Bagi RI tak ada akal, logika, apalagi akhlaq

Bagi RI tak ada martabat dan harga diri

Bagi RI yang ada hanya “wani piro

Mata RI hinggap di mana saja

Hatinya bertanya: “Saya dapat apa”

Telinga RI mendengar apa saja

Pikirannya berkata: “Apa untungnya untuk saya”

RI adalah tanah air yang ber-Negara

Yang ada adalah Pemerintah yang berpikir Perusahaan

Yang ada adalah Pejabat-pejabat

Dengan perusahaan-perusahaan Kelompok dan Pribadi

Yang numpang di kantor-kantor Pemerintahan

Yang ada adalah Sindikat-sindikat sistemik dan struktural

Yang bekerja mengakali Negara dan merampok Tanah Air

RI sudah mantap, yakin dan gagah dengan itu semua

Tidak ada manfaatnya kamu menemui kami para Leluhur

Kami para orangtua hanya mendoakan

Agar kalian yang mengingat kami

Tidak ikut hancur…”

Sepuluh

Saya tidak mau putus asa. Saya terus bertanya:

“Sebenarnya apa penyakit RI, Kanjeng Sunan?

Konstitusinya, sistemnya, atau manusianya?”

Brandal Lokajaya menjawab:

“Manusia merusak sistemnya, sistem merusak manusianya”

“Apakah itu penyakit akal pikiran, mental, budaya atau spiritual?”

Brandal Lokajaya menjawab:

“Kalau yang sakit akal pikirannya, namanya Gila

Kalau yang sakit mentalnya, namanya Sakit Jiwa

Kalau yang sakit budayanya, namanya Edan

Kalau yang sakit spiritualnya, namanya Jahiliyah

Kalau yang kau alami sekarang: Pra-Jahiliyah

Jahiliyahpun belum

Hewan saja tak ada yang serakah

Karena alam dan binatang sepenuhnya di-remote oleh Tuhan

Hukum Rimba sangat indah ekosistemnya

Hukum Rimba sangat seimbang metabolismenya

Sedangkan Hukum Manusia tidak punya keseimbangan

Hukum Negara matanya juling, kakinya pincang

“Fi qulubihim maradlun fa zadahumullahu maradla”

Di dalam hati mereka membengkak berbagai macam penyakit

Dan Tuhan menambahi dan menambahkan penyakit mereka

Lambat atau cepat, demi keseimbangan dan penyeimbangan

Balasan akan tiba

Hidayah bagi yang masih siap menerimanya

Adzab bagi para penghuni Zona Nyaman

Dalam pengingkaran kepada Tuhannya

Sebelas

“Apa yang harus saya lakukan, atau sekurang-kurangnya

apa yang mungkin saya katakan kepada RI, Kanjeng Kiai?”

“Sawa-un ‘alaihim aandzartahum am lam tundzirhum la yu`minun”

Sama saja bagi mereka kamu omongi atau peringatkan atau tidak

Mereka tidak akan percaya kepadamu

“Jadi bagaimana dong Mbah?”

“Shummun bukmun ‘umyun fahum la yarji’un”

Picek dubleg, bebal ndableg

Buta tuli dan tak akan bisa kembali

“Tidak bisa kembali ke mana

atau tidak bisa kembali menjadi apa, Pangeran Abdurahman?”

“Tidak bisa kembali Kediri, paling Nganjuk atau Kertosono

Tidak bisa kembali menjadi RI, bertele-tele Ma RI wa La RI”

Saya tidak mau kalah: “Tapi saya tidak lho, Kiai Brandal

Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah

Saya bersaksi Muhammad adalah duta besar-Nya

Dan saya bersaksi bahwa ini semua bukan RI

Wa ‘ala alihi wa ashabihi sema sekali bukan RI

Kemudian saya bersaksi

Bahwa mustahil Tuhan terus saja membiarkan ini

Mustahil semua makhluk di tlatah Nusantara

Baik Malaikat, Jin, Leluhur, Sesepuh, Mawali dan Masayikh

Tidak cemas menyaksikan Ma RI wa La RI

Alam dan waktu sudah menyusun irama

Reformasi yang sejati akan terjadi

Restorasi, Rekonstruksi, Revolusi, atau apapun

Akan menjadi isi zaman esok hari

Ma RI wa La RI semakin terjun ke jurang kegelapan malam hari

Dan kamu muda yang dicintai Tuhan dan mencintai Tuhan

Sudah semakin siap membangkitkan pagi hari”

 

Yogya 15 Januari 2018.

Emha Ainun Nadjib

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here