MEMIMPIKAN REFORMASI YANG KITA MAU (Bagian Pertama)

0
393

Oleh

TIM REDAKSI MEDIANSEAS

Pada 15 Januari 2018 telah berlangsung peristiwa politik unik di University Club  Kampus Bulak Sumur UGM Yogyakarta. Kalangan Aktivis Malari dan InDemo terkenal selama ini bergerak di Ibukota DKI Jakarta, kali ini buat kegiatan diskusi publik di Kampus UGM. Thema diskusi juga menarik, mempertanyakan perjalanan reformasi 1997/8 selama ini, bukan perjalanan cita2 gerakan mahasiswa Malari 1973/74.

Kegiatan ini dimaksudkan juga untuk memperingati 44 Tahun Malari itu sekaligus juga merayakan 18 Tahun Indonesian Democracy Monitor (InDEMO), sebuah lembaga kajian yang didirikan Hariman Siregar dkk.

Malari (Malapetaka Limabelas Januari) adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974.  Terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Tanaka Kakuei  berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa berencana aksi demo  di  Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.  Mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara tsb.

Usai terjadi demonstrasi disertai kerusuhan dan  pembakaran, dan penjarahan di  Jakarta, Presiden  Soeharto kemudian  memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin, Sutopo Juwono digantikan oleh Yoga Soegomo. Peristiwa ini setiap tahun diperingati oleh Hariman Siregar dkk.

Kembali tentang diskusi publik di Kampus UGM ini, terbuka  untuk umum dan  bertemakan: “Mengembalikan Reformasi yang Kita Mau”. Apa yang diinginkan diskusi publik ini yakni:  Pertama,  Diskusi ini harus memperjuangkan keadilan sosial. Kedua, adanya transformasi sosial yang memunculkan gerakan anti demokrasi . Bagaimana mendekati masyarakat baru penikmat medsos, mulai meninggalkan media cetak. Ketiga, diskusi mencari jalan keluar untuk menghadapi masa depan yang sangat berbeda keadaannya dgn sekarang.

Acara ini  dimulai dengan orasi  kebangsaan Hariman Siregar, mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia era Malari.  Setelah orasi Hariman, dilanjutkan

pembahasan tema diskusi oleh Daniel Dhakidae (Alumnus Sospol UGM dan Pengamat Politik/Pemerintahan), Ari Sujito (akademisi UGM), Max Lane (Ilmuwan Politik dan Indonesianis dari Australia), Bhima Yudhistira (Pengamat ekonomi  Indef), dan Cak Nun (Budayawan).

Di dalam orasinya, Hariman Siregar menyoroti hal ikhwal perjalanan reformasi dan juga kinerja Rezim Jokowi.

Menurut Hariman, kita perlu bukan status qou, masa lalu atau nostalgia, tetapi ke depan atau majuisme. Kita harus keluar dari pemikiran status qou dan masa lalu.

Kini pemerintah lagi suka berbicara infrastruktur.  Tetapi, negara ini tidak bisa lagi mencari dana kecuali pajak. Sementara itu, korporasi lebih luas bisa mencari dana melalui penjualan saham. Kondisi kapitalisme sekarang sangat beda dengan super kapitalisme sekarang. Kalau dahulu kapitalisme menyerap banyak tenaga kerja, sementara sekarang jauh lebih sedikit. Hal ini terjadi bukan saja di Indonesia, juga berlaku di dunia.

Mau diapain Indonesia ini? “Pertanyaan ini perlu dijawab secara serius”, ujar Hariman.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here