HKTI DAN PILPRES 2024

0
90

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Hari Jumat tanggal 19 Januari 2024, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang dinakhkodai DR. Fadli Zon akan menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Jakarta. Acara yang menghadirkan Pimpinan HKTI tingkat Provinsi seluruh Nusantara ini, mencoba akan mengevaluasi kegiatan yang telah berjalan, menangkap isu strategis yang muncul dalam kehidupan sekaligus juga membaca isyarat jaman yang tengah menggelinding.

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) adalah sebuah organisasi sosial di Indonesia yang berskala nasional, berdiri sendiri dan mandiri yang dikembangkan berdasarkan kesamaan aktivitas, profesi, dan fungsi di dalam bidang agrikultur dan pengembangan pedesaan, sehingga memiliki karakter profesional dan persaudaraan.

Berdirinya Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai wadah petani-petani Indonesia, terbukti telah mampu mengoptimalkan hasil pertanian di Indonesia, karena sebagai suatu organisasi, HKTI bertujuan untuk membantu meningkatkan kapasitas, harkat, martabat dan kesejshteraan i san tani serta pelaku agribisnis lainnya.

Gerak langkah HKTI dalam mengarungi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, sebetulnya telah sama-sama kita kenali. Di era reformasi HKTI bukan lagi “underbouw: kekuatan Partai Politik tertentu. Hal ini sangat jauh berbeda dengan era Orde Baru, dimana HKTI telah dijadikan “kepanjangan tangan” kekuatan organisasi politik tertentu.

Menghadapi Pemilihan Presiden/Wakil Presiden 2024, kader-kader HKTI memiliki kebebasan untuk menentukan sikap politiknya. Secara kelembagaan, tidak ada arahan atau petunjuk bagi kader HKTI untuk memilih salah satu pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden yang ikut berlaga dalam Pilpres 2024 ini.

Sekedar mengingatkan, HKTI lahir tanggal 27 April 1973. Arti nya HKTI sudah lebih dari 50 tahun mengisi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di tanah merdeka ini. Sejak HKTI didirikan, semangat “kerukunan” tetap menjadi ciri yang menonjol dalam setiap kiprah yang dilakoni nya.

Kerukunan itulah yang membuat HKTI tampil sebagai organisasi yang mengedepankan rasa persaudaraan ketimbang kepentingan lain nya. Filosofi rukun dalam HKTI membuat rasa kebersamaan menjadi lebih penting ketimbang tuntutan politik atau pun ekonomi.

Sejak tahun 2010 HKTI terbagi menjadi dua kubu. Di satu pihak ada yang mengaku sebagai HKTI nya Prabowo Subianto. Dipihak lain ada juga yang mengatas-namakan HKTI nya Oesman Sapta. Sampai saat ini, kedua kubu ini tetap berjalan dan bergerak menjalankan program seperti yang diatur dalam AD & ART masing-masing.

HKTI Prabowo kini dipimpin oleh Fadli Zon, sedangkan HKTI Oesman Sapta diketuai oleh Muldoko. Semangat untuk menjadikan SATU HKTI kembali terus dilakukan. Komunikasi yang inten antara dua kubu terus berlangsung. Sayang hingga kini semangat reunifikasi tersebut belum dapat diwujudkan.

Sebagai organisasi petani yang memiliki marwah utama untuk memberdayakan dan memartabatkan kaum tani, HKTI sudah seharus nya tampil di garda paling depan, sekira nya tampak ada hal-hal yang ingin memarginalkan petani. HKTI tidak boleh berdiam diri, bila tiba-tiba lahir kebijakan yang tidak berpihak kepada “felt need” petani.

Memasuki era milenial, HKTI penting untuk menyesuaikan program dan kegiatan nya dengan ciri-ciri milenial yang ada. Bila generasi milenial menyukai yang serba cepat, HKTI pun dituntut untuk bergerak sangat cepat. HKTI tidak bisa lagi hanya menunggu masalah, namun sepantas nya HKTI dapat menjemput masalah untuk segera diselesaikan.

Namun begitu, bagi beberapa orang masih saja beranggapan HKTI perlu menentukan sikap politiknya dalam Pelpres 2024 nanti. Hal seperti ini wajar terjadi, karena masih banyak diantara kader HKTI yang terobsesi oleh pengalaman masa lalu. Apalagi bila dikaitkan dengan salah satu Calon Presiden yang sempat memimpin HKTI selama dua periode kepengurusan.

Siapa sih diantara para kader HKTI yang tidak akan merasa senang dan riang gembira jika panutannya terpilih menjadi Presiden NKRI ? Pengurus dan kader HKTI di lapangan, pasti akan berjuang habis-habisan untuk mengkampanyekan jagoannya dalam Pemilihan Presiden mendatang. Tanpa dikomando pun, mereka akan “all out” untuk memenangkannya.

Walau secara aturan main kelembaggaan HKTI “bebas nilai” dari kepentingan politik praktis, namun tidak ada satu aturan pun yang melarang kader-kader HKTI untuk memberi dukungan terhadap salah satu pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden. Sebagai warga negara, mereka memiliki hak untuk menentukan pilihan politiknya.

Keberadaan HKTI sebagai kelembagaan petani, pasti harus independen. Tapi, kader-kader yang berhimpun dalam HKTI tidak diharamkan untuk ikut memilih siapa diantara para pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden, yang dianggap pantas untuk menjadi pemimpin bangsa 5 tahun ke depan. Para kader HKTI, tentu telah memiliki sikap politik dalam menetapkan pilihan politiknya.

Kader-kader HKTI di seluruh Nusantara, bukanlah warga bangsa yang buta politik. Mereka sudah tahu persis siapa diantara tiga pasang Calon Presiden/Wakil Presiden yang layak untuk memimpin bangsa dan negara periode 2024-2029. Yang mereka pilih, pasti putera terbaik bangsa ini. Mari kita lihat perkembangannya. Selamat Rapimnas HKTI ! (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here