TRITURA 23: (3) TNI, Kudeta MPR, dan Kudeta-kudeta Militer, Jelang Pemilu 2024.

0
122

Oleh: Sri-Bintang Pamungkas

Tidak ada satu pun dari para Tokoh Dunia yang pernah menyatakan bahwa Kudeta adalah melanggar hukum. Bahkan ada yang mengatakan “kudeta wajib dilakukan” dan itu legitimate. Apalagi kalau kudeta itu kemudian berhasil tanpa ada korban dan tanpa ada pertumpahan darah. Bukankah Kudeta Abdel Fattah Al Sisi dari Mesir menjadi legitimate sebelum ada Kudeta baru terhadapnya?!

 

Indonesia dan banyak negara yang pernah dijajah oleh Pemerintah Kolonial Asing selama bertahun-tahun, yang menguras segala kekayaan Negara hukumnya wajib melakukan Kudeta terhadap Pemerintah Penjajah. Setelah ribuan atau bahkan jutaan rakyat Nusantara menjadi korban, maka di bawah pimpinan Soekarno-Hatta dengan Kekuatan Sipilnya, Indonesia yang dulunya adalah Kerajaan-kerajaan dan Kesultanan-kesultanan, akhirnya berhasil merdeka dan mengusir para Penjajah Asing.

 

Setelah sekianbelas tahun hidup dalam Alam Kemerdekaan, yaitu sejak terusirnya Kolonialis Asing, sekarang, bahkan sejak beberapa puluh tahun terakhir, Indonesia menghadapi lagi penjajahan oleh Kolonialis Domestik. Akankah Rakyat berwajib melakukan Kudeta lagi? Dulu belum ada tentara, tapi Kudeta berhasil. Sekarang sudah ada TNI. Haruskah Rakyat bersama TNI melakukan Kudeta bersama mengusir para Penjajah Domestik ini agar lebih berhasil. Betulkah TNI bersama Rakyat?!

 

Penjajah di mana-mana di Dunia adalah Penjahat yang mencederai Rakyat, menganiaya Rakyat, memiskinkan Rakyat, menyiksa Rakyat, menggusur Rakyat, bahkan membunuhi Rakyat dengan Peluru dan BomĀ  Mereka, para Kolonialis Domestik ini, yang berperilaku seperti para Kolonialis Asing dulu, harus dijatuhkan, dihukum, dikurung, digantung, bahkan kalau perlu diusir. Mereka harus dikudeta.

Sejarah membuktikan, bahwa Rakyat Indonesia berhasil menjatuhkan Soekarno yang menyimpang dari Konstitusi dengan menghalalkan komunisne. Rakyat Indonesia juga berhasil menjatuhkan Soeharto yang juga mengkhianati Konstitusi dan menjalankan militerisme. Tetapi kejahatan para Penjahat yang berperilaku sebagai Penjajah itu juga semakin banyak, muncul dalam bentuk Rezim-rezim Baru, dan semakin bertambah-tambah pula jahatnya.

Dari Rezim ke Rezim, mereka memperkaya diri dan memiskinkan Rakya, mereka merampok kekayaan Negara, mereka menguasai tanah Rakyat dengan menggusur dari tanah kelahiran dan sumber kehidupannya, mereka memutarbalikkan hukum, sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, mereka membikin Rakyat sengsara dan menjauhkannya dari cita-cita dan harapan Kemerdekaan 45.

Bahkan mereka menggunakan Alat Negara Bersenjata dari TNI dan Polri, serta Orang-orang Asing untuk menjajah Negeri ini kembali, seperti di jaman Kolonialisme Belanda. Dulu Belanda, sekarang Cina dan Aliansi Barat Indonesia yang pernah merdeka, sekarang dijajah kembali oleh Rezim dari Bangsanya sendiri yang bekerjasama dengan Asing dan Aseng.

Kudeta memang terjadi di mana-mana, terutama di Afrika. Berbeda dari Indonesia, Kudeta di Afrika dilakukan oleh militer. Berbeda pula dari Indonesia, Kudeta dilakukan untuk menjatuhkan Rezim dari Bangsanya sendiri yang Sontoloyo dan yang bekerjasama dengan Kolonialis Asing.

Dalam tiga tahun terakhir ada 6 (enam) Negara yang mengalami Kudeta militer di Afrika. Yaitu Chad, Guinea, Mali, Burkina Faso, Niger dan Gabon. Di Burkina Faso, seorang Kapten mengkudeta Pemimpin Kudeta lama, seorang Letkol yang pernah menjadi atasan Sang Kapten. Di Niger, Kudeta dilakukan oleh Panglima Pasukan Pengawal Presiden. Dan Kudeta terbaru di Gabon dilakukan Pemimpin Militer dengan menggulingkan Rezim Presiden yang sudah berkuasa selama 55 tahun, pada saat si Presiden mengumumkan kemenangannya lagi dalam Pemilu yang curang.

Yang menarik, negara-negara itu adalah bekas jajahan Perancis. Para pemimpin Kudeta itu kmudian mengusir orang-orang Perancis dan Asing lainnya. Yaitu, para Kolonialis Asing yang bekerjasama dengan Rezim Sontoloyo yang terus-menerus menguras kekayaan negaranya, minyak, emas, uranium dan lain-lain. Mereka juga menempatkan ribuan tentara Asing dalam kam-kam militer mereka.

Menjelang Pemilu 24, Rezim Penguasa di Indonesia tidak berbeda dari Rezim Keluarga Umar dan Ali Bongo di Gabon. Mereka mencurangi Pemilu dan menyatakan menang untuk terus berkuasa. Tidak berbeda dari apa yang akan terjadi di Indonesia 2024 nanti. Para Calon Presiden 2024 nanti tidak lain adalah sebuah Clan Keluarga Sontoloyo dalam naungan Asing dan Aseng.

Mereka telah lama mempersiapkan diri dengan mengubah Konstitusi UUD45 Asli dan Pancasila menjadi UUD Palsu yang memungkinkan Clan Keluarga Pribumi Sontoloyo itu berkuasa di bawah payung Asing dan Aseng. Mereka pada hakekatnya telah Menjual Negeri ini: Indonesia is for Sale, kata Rezim SBY semasa berkuasa.

Akankah muncul seorang Kapten, Mayor atau Kolonel yang akan mengkudeta Rezim Jokowi menjelang Pemilu 24 nanti?! Indonesia dari Sabang sampai Merauke memang tidak sama dengan Burkina Faso, Mali, Niger atau Gabon. Indonesia terlalu luas untuk suatu Penaklukan yang Sekaligus dan Berhasil. Tapi mungkin saja Jakarta bisa ditaklukkan oleh Panglimanya dan Panglima-panglima yang lain ikut mendukungnya. Masih adakah TNI yang Setia kepada Tanah Airnya seperti Kapten Ibrahim dari Burkina Faso?! Semoga ada!

 

Dan jangan sekali-kali mengulangi Soeharto dengan militerismenya, Sungguhpun demikian, kudeta lewat MPR, di mana Presiden adalah Mandarisnya, sesungguhnya adalah cara yang terbaik. Lebih baik daripada kudeta militer, karena risiko kerusakannya kecil. Karena itu, wahai Ibrahim-Ibrahim, kembali berlakukanlah UUD45 Asli. Lalu pilihlah Pemimpin yang baik dan benar, Bukan Pemimpin Gadungan.

Hari Pancasila Sakti

1 Oktober 2023

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here