Sang Maestro, Galam!

0
244

JOGJA, kota yang menyimpan banyak kenangan. Selain dikenal kota pendidikan juga kota kebudayaan. Di sini di kota Gudek ini intelektualitas diasah idealisme tertancap dan kepekaan nurani tumbuh.

Kuliah di Jogja tidak hanya mendapatkan hal itu, lebih dari itu menemukan banyak teman sejati yang hingga kini terawat indah kendati terpisah oleh ruang dan waktu. Semua sibuk bergelut dalam profesi, namun tetap selalu menyediakan kesempatan saling kontak dan bersua dalam kehangatan pertemanan.

Satu di antara banyak teman baik itu adalah Galam Zulkifli, yang ketika dulu tinggal bersama di Asrama Sumbawa Jogja kami memanggilnya ‘Gepsy’. Belakangan lebih populer dengan nama ‘Galam’. Sebuah nama dengan jari-jemari yang mengandung getaran bionix-iluminatif dalam jagat kebudayaan Indonesia.

Iya.. Galam nama yang masyhur dalam seni lukis Indonesia.Tak berlebihan bila saya menyebutnya sebagai salah satu maestro pelukis yang dimiliki bangsa ini. Lukisannya sungguh menakjubkan-mengagumkan.

Galam menggeluti dunia lukis melukis di luar arus mainstream dan aliran pelukis pada umumnya. Lukisannya berbeda. Ia menempuh jalannya sendiri. Dituntun hati dan pikirannya, dibiarkan jari-jemarinya menari-nari di atas kampas, hingga kemudian menghasilkan lukisan iluminatif yang bikin takjub bagi jiwa-jiwa penikmat seni.

***

Saya datang ke Jogja untuk keperluan lain. Tapi saya memerlukan datang menemui Galam di gallerynya, Iniseum Gallery namanya. Bangunan berlantai 2 cukup besar dan luas yang terletak di Umbulharjo Kota Yogyakarta.

Mas Galam menyambut hangat dan kita ngobrol di teras belakang yang juga digunakan sebagai ruang komunitas literasi anak muda Jogja.

Mas Galam mengajak saya masuk ke dalam gallery dan menunjukkan lukisan-lukisannya yang indah menakjubkan terpajang apik. Ia menjelaskan secara detail makna dari setiap lukisannya.

Bagi Galam, lukisan bukan semata seni untuk seni (l’art pour l’art). Lukisan merupakan stimulus besar bagi manusia untuk menghadirkan kebaikan di atas tanah kering humanitas. Karenanya, proses kreatifitas seorang Galam dalam melukis selalu berpijak dari realitas manusia dan kehidupan. Lukisannya tidak hadir dari dan dalam ruang hampa. Selalu ada pesan historisitas-heteroginitas kebangsaan dan humanitas.

Seri Ilusi #TheIndonesiaIdea contohnya, sebuah lukisan karya masterpiece yang pernah bikin heboh dan viral di media sosial pada 2016. Lukisan akrilik berukuran 400 cm x 600 cm tersebut dipajang di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hata Jakarta. Lukisan wajah ratusan potongan wajah tokoh besar Indonesia.

Pada lukisan tersebut terselip potongan wajah DN Aidit, tokoh PKI. Di sinilah pangkal kehebohan dan menimbulkan kontroversi. Keberadaan wajah Aidit dipermasalahkan banyak orang khususnya di media sosial.

Pejabat kementerian terkait pun meminta Galam agar wajah itu dihilangkan atau setidaknya disebut itu bukan wajah Aidit. Pejabat BIN dan ulama bahkan datang ke Jogja menemui Galam meminta hal serupa. Perdebatan pun terjadi. Namun ia tidak melayani permintaan mereka. Galam menjelaskan dengan pendekatan historis kebangsaan mengapa Aidit ditampilkan dalam lukisan bersama deretan tokoh-tokoh besar Indonesia.

Galam menjelaskan secara panjang, cerdas, dan komprehensif bahwa Indonesia bukanlah sebuah antinomi yang memperlihatkan wajah yang tunggal. Ia adalah sebuah pembayangan bersama yang ditopang dari ide yang beragam.

Ide atau pikiran yang kemudian bermetamorfosis menjadi ideologi di praksis pergerakan sedemikian rupa berdialog dan mencari titik kompromi yang terkadang musykil.

Menurut Galam, sebagai sebuah panggung, Indonesia adalah persembahan panjang tentang pencarian kebenaran lewat jalan perdebatan. Ide-ide dipertemukan mencari formula, tidak saja bentuk negara, melainkan juga bagaimana mempertemukan keragaman ide dari tuturan bahasa yang berbeda-beda se-Nusantara menjadi sukma “persatuan nasional”.

Proses menjadi Indonesia adalah sesungguhnya kerja coba-coba yang serius. Bukan saja proses ini melahirkan “pahlawan”, tapi juga “pemberontak”.

Bukan saja proses ini menobatkan sejumlah pemilik ide menjadi “tokoh bangsa” yang tampil dalam silabus sejarah, tapi juga pengusung ide yang teralpa dan bahkan terkubur karena pilihan ideologis yang kalah dalam pertaruhan.

Menurutnya, ide-ide yang bertaruh dan diperjuangkan dengan keras kepala itulah yang membingkai wajah Indonesia yang terwariskan hingga kini.

“The Indonesian Idea” ini adalah proyek visual dengan ambisi menyambangi seluruh simpul, spektrum, nuansa seluruh semesta ide yang melahirkan rantai panjang tanpa putus ihwal keindonesiaan.

Empat ratus wajah dengan latar ide(ologi) dan praksis (kerja) di atas kanvas adalah ikhtiar menaikkan yang terinjak, memunculkan yang hilang, dan menyatukan yang terserak.

“The Indonesian Idea” adalah ikhtiar atas ide-ide besar peradaban memaklumatkan keindonesiaan yang di satu sisi utuh, satu, berkemanusiaan, demokratik, dan dialogis; namun di sisi yang lain kebesaran yang ideal itu adalah ilusi.

Lewat “jalan cahaya” sebagai metode visual, simulasi dari ilusi itu menyadarkan kita betapa anugerah keragaman ide ini rapuh, goyah. Salah satu cara merawatnya adalah menampilkannya secara adil, berani, dan nondiskriminatif.

***

Tak terasa 3 jam bersama Galam. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Dan saya harus pamit menuju ke Stasiun Kereta karena pukul 21.30 berangkat kembali ke Jakarta.

Terima kasih Mas Galam atas penerimaan dan sambutan yang hangat. Sungguh pertemuan dan diskusi yang menyenangkan. Saya banyak mendapatkan wawasan baru dari seorang budayawan, seniman, dan intelektual putra Sumbawa ini yang rambutnya sudah tidak kribo lagi. ***
________.._______
Kereta Malam Jogja-Jakarta
17/03/2023
Andi maperumah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here