Jacob Ereste : *MENGENANG AKTIVIS SEJATI MUCHTAR EFFENDI HARAHAP (MEH)*

0
735

Sungguh dalam usia relatif muda,ternyata aktivis mahasiswa lintas kampus angkatan 1978 yang sejati ini layak disebut sebagai aktivis tulen. Karena sampai akhir hayatnya aktivitas yang dilakukannya tidak pernah surut. Reputasi Bang Muchtar Effendi Harahap pun sebagai nara sumber, penulis freelance dan penyusun buku sungguh mengagumkan. Saya tidak tahu pasti sudah berapa banyak buku yang telah dilincurkannya. Bahkan menjelang akhir hayatnya pun — beberapa bulan lalu — masih sempat melounching buku yang padat analisis politik. Maklumkah dia memang memilih untuk mencurahkan perhatian pada peta geopolitik khusus untuk Asia Tenggara. Tentu saya agak istimewa baginya memberi perhatian bagi negerinya sendiri, Indonesia.

Pada awal tahun 1980 saya masih mengingat mulai intensif mencari bekal dengan ikut dalam kegiatan organisasi ekstra kampus — seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) — dan satu diantara mentor ketika itu adalah Muchtar Effendi Harahap. Saya ingat betul ketika itu Bang Muchtar Effendi Harahap tertawa terbahak-bahak, karena terkejut dan mungkin juga surprise karena melihat saya jelas berjajar diantara kader peserta pelatihan. Menurut dia ketika itu para pemberi materi akan dari HMI akan menjadi kikuk dengan keberadaan saya sebagai peserta, karena realitasnya dalam trah HMI Yogyakarta saya memang termasuk sebagai anak bawang. Harun Songge misalnya selaku seniorita di lingungan HMI sekarang, adalah satu diantaranya yang tetap akan menjadi sosok rujukan yang sahih bagi saya.

Pada waktu belakangan, hubungan kami pun semakin asyik dan intiens meski tidak terus menerus berlangsung. Dalam suatu kesempatan bercengkerama serupa itu kami pun saling kadang saling betanya tentang keluarga, sahabat dan kawan semasa masih di Yogya. Seperti Hilman Harun (Guru Besar Universitas Tjokroaminoto), Harun Songge (yang kini semakin intens mengelola Pondok Pesantren dengan gigih dan tangguh di kampung halannya NTT), Irwansyah Nasution yang asyik mengahar di Universitas Sunatra Utara. Dan setelah hijrah juga ke Jakarta 1990 pun saya menyaksikan MEH — meski telah menjadi dosen di Universitas Jayabaya dan sempat ikut membesut program Pasca Sarjananya — toh darah aktivis yang mengalir dalam tubuhnya terus menggelegak. Ia seperti tak punya pilihan lain kecuali tetap meneguhi dunia pergerakan. Dunia aktivis terus ditekuninya terus seperti bersama Hatta Taliwang, Ramli Kamidin, dan seniorita aktivis lainnya di Jakatta. Bahkan saat-saat sedang sakit pun awal Januari 2019 lalu beliau berkenan dan mau menjadi nara sumber di forum diskudi Komunitas Rumah Kedaulatan Rakyat Guntur 49 bersama Benny Akbar Fatah, serta tokoh Sri Bintang Pamungkas dan di forum aktivis senior lainnya.

Kekaguman saya pun semakin membatu meyakini bahwa sosoknya Vang Muchtar Effendi Harahap sebagai aktivis sejati sungguh tidak perlu diragukan. Adapun kesan yang sangat mempesons saya itu ketika rutin hadir untuk mendampingi Mas Sri Bintang Pamungkus saat menghadapi rekayasa rezim yang mendakwa melakukan makar pada tahun 2018. Saya kagum pada konsistensinya MEH untuk hadir bukan hanya pada setiap persidangan di PN Jakarta Selaran itu, tapi juga mau hadir lebih awal dari waktu yang telah dijadualkan.

MEH, demikian kami sering menyebut inisialnya seperti yang juga tertera dalam karya tulisannya di media massa. Panggilan itu pun semakin karib dan akrab tidak hanya bagi saya saja ketika berkiprah di media cetak dulu saat masih mengelola Koran Minggun Eksponen di Yogyakarta tahun 1980-an. Tetapi juga saat bersama mengelola Bank Naskah dan Data untuk menduplai sejumlah media cetak yang ada ketika itu, utama untuk Majalah Mingguan Estafet, Majalah Amanah hingga Koran Masa Kini Yogyakarta yang kemudian beralih manjemen jadi Koran Harian Yogya Pos.

Hampir pada periode yang sama Muchtar Effendi Haragap juga dipercaya oleh manajemen Harian Jawa Pos untuk menjadi Kepala Perwakilan Jawa Tengah guna memperluas pangsa pasar setelah usai merambah pasar Indonesia Bagian Timur. Joko Susilo yang ikut berjasa membangun kemutraan itu kemudian menjadi perwakikan di Washington.

Saat saya hijrah juga ke Jakarta tahun 1990, MEH pun menawarkan formasi untuk menjadi dosen di tempatnya mengajar. Karena memang tidak tertarik dan saya terlanjur enjoy untuk ikutan membangun Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), bergsbunglah saya bersama Muchtar Pakpahan yang gigih menentang kebijakan rezim Orde Baru. Meski begitu toh jalinan persahabatan dan persaudaraan yang telah terjalin bersama Muchtar Effendi Harsh so tidak pernah merenggang. Bahkan pada suatu kesempatan MEH terkesan sangat bangga memperenalkan saya pada peserta seminar yang dilaksanakannya, bahwa saya adalah pejuang buruh.

Begitu juga saat kami acap bersua di kantor redaksi kawan-kawan yang masih aktif mengelola media cetak. Karena saat pemberian honor tulisan yang telah dimuat telah ada d jadualnya. Lebih dari itu pun kami memang seperti ada pertautannya dalam kegiatan dan aktivitas, setidaknys ingin ikut dan berperan mencerdaskan kehidupan bangsa agar bisa lebih sejahtera dan berkeadilan sehingga tatanan kehidupan manusia Indonesia bisa lebih beradab.

Seorang aktivis sejati tulen telah pergi. Jejak langkah serta gairah perjuangan maupun gagasan besarnya patut kita lanjutkan. Muchtar Effendi Hararap telah disemayamkan di TPU Budi Darma Cilincing, Jakarta. Suapa pun pasti meninggalkan rekam jejak itu dibatu nisan. Seperti ujaran Chairil Anwar, hidup hanya sekali….

Dan kita pun yang ditinggal akan perlu atau lebih ditinggalkan. Maka itu kutulis kesaksian dibatu nisan ini agar kau pun mengenang kebaikan yang telah tersemai sepanjang hayat…

*Banten, 25 Februari 2019*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here