RAMAI2 MENUDING LAPORAN INDONESIANLEAKS HOAKS DAN BERITA BOHONG

0
451

Pada 14 Oktober 2018 lalu, IndonesianLeaks menyelenggarakan Konprensi Pers di Sekretariat Aliansi Jurnarlis Indonesia (AJI). Konprensi Pers ini mengenai perdebatan publik tentang hasil laporan IndonesianLeaks terkait dugaan perusakan barang bukti Buku Merah catatan keuangan staf Basuki Hariman, Terpidana penyuap Patrialis Akbar. IndonesianLeaks membeberkan kasus proses hukum suap pengusaha daging Basuki Hariman kepada Hakim Konstitusi Patrialis Akbar Januari 2017, 2 Oktober 2018. Setelah muncul Laporan itu, sejumlah pihak ramai2 menuding hasil Laporan diklaim sebagai laporan investigasi itu hoaks dan berita bohong.

Tudingan hasil laporan hoaks dan berita bohong mengundang reaksi para aktor yang bergabung di dalam Tim IndonesianLeaks, antara lain: Nawawi Baharudin, Eni Mulia dan Abdul Manan, dll.

Nawawi Baharudin adalah Direktur Eksekutif LBH Pers. Ia menyangkal tudingan hasil laporan mereka itu hoaks dan berita bohong. Ia memastikan, laporan yg mengungkapkan kasus perusakan barang bukti Buku Merah berisi catatan keuangan dugaan aliran dana ke Petinggi Polri termasuk Kapolri Muhammad Tito Karnavian sudah melalui verifikasi data secara valid.Namun, bagaimana cara memvalidasi data secara valid dimaksud Nawawi tidak menjelaskan. “Apa yang diberitakan media anggota IndonesianLeaks ada data dan faktanya, serta sudah diverifikasi”, kilahnya.

Tim IndonesianLeaks telah mendapatkan data Buku Merah dan BAP Kumala Dewi Sumaryono. Kebenaran data ini menurut Nawawi sudah dikonfirmasi ke tempat sumber KPK.

Selanjutnya, Eni Mulia mencoba menceritakan kronologis pembentukan Tim IndonesiaLeaks. Tentu saja tujuannya untuk membangun citra positif dan IndonesianLeaks takkan membuat laporan berdasarkan data hoaks dan bohong. Menurut Eni,
Eksekutif Direktur Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), ide mendorong sebuah lembaga namanya Free Press Unlimited (FPU) dari Belanda. IndonesianLeaks bermitra dengan FPU memberi bantuan dana untuk membantu proses pembuatan platform, membutuhkan sistem sangat aman termasuk penggunaan browser tertentu.

Lebih lanjut, Eni membeberkan, dokumen pertama diterima IndonesianLeaks datang atas nama
LBH Pers beraudiensi dengan KPK. Pd 5 Agustus Festival IndonesianLeaks diadakan di Perpustakaan Nasional di Jakarta. Setelah dua bulan, 8 Oktober 2018, sejumlah media tergabung ke dalam IndonesianLeaks serentak menerbitkan hasil laporan pertama.
Berbeda dengan WikiLeaks, IndonesianLeaks menerbitkan hasil laporan investigasi setelah melalui proses jurnalistik. Sementara, lanjut Ani, Wikileaks menerbitkan data atau informasi secara mentah dengan sedikit pengantar. Intinya, Ani mengklaim laporan IndonesisnLeaks lebih bagus dlm pengelolaan data ketimbang Wikileaks.

Abdul Manan Ketua AJI 14 Oktober 2018 melalui video di channel YouTube Aliansi Jurnalis Independen membantah tudingan hasil liputan IndonesianLeaks sebagai hoaks dan berita bohong. Bagi Manan, tudingan itu tidak berdasar. Sebab laporan itu berdasarkan data sangat jelas dan telah diverifikasi sebelum ditindaklanjuti ke tahap peliputan. Awalnya dari Buku Merah berisi catatan keuangan dan berita acara pemeriksaan (BAP), begitu diterima IndonesianLeaks, mereka memverifikasi semua informasi. Pertama, klaim Manan, mereka memverifikasi asal dokumen, lalu informasinya. “Itu merupakan salah satu tindakan dasar sebelum memutuskan ini layak diinvestigasi atau tidak,” kata Manan.

Dalam kenyataannya meski Tim IndonesianLeaks berusaha keras meyakinkan publik bahwa laporan mereka itu bukan hoaks atau bukan berita palsu. Konprensi Pers di Pasar Minggu salah satu caranya.

Publik tetap saja menilai laporan mereka hoaks dan berita bohong. Hal ini bermula dari pernyataan Agus Raharjo, Ketua KPK, menyatakan apa diungkapkan Indonesian Leaks tidak benar.

Keberadaan lembaga IbdonesianLeaks ini juga masih misterius. Dari pantauan Indonesian Police Watch (IPW) pimpinan Neta Pane, siapa pengelola IndonesianLeaks tidak pernah muncul di permukaan. Bahkan, WWW. IndonesianLeaks.com tidak menampilkan nama2 pengelola, hanya menampilkan sejumlah logo media sebagai mitra dan inisiator. Pane mempertanyakan, apakah sebuah lembaga tidak berani secara jantan menampilkan figur pengelola dan penanggungjawabnya pantas dipercaya?

Penilaian negatif atas laporan IndonesianLeaks datang dari Prof. Dr. Mahfud MD. Mantan Ketua MK ini sempat menyebut laporan itu hoaks. Menurut Mahfud, situs InfonedianLeaks sama seperti WikiLeaks yang selama ini diciptakan untuk menguat polemik di tengah2 masyarakat. Mahfud menolak untuk mengomentari isinya laporan itu karena bisa membuat tujuan dari penulisnya berhasil.

Sejumlah pihak ramai2 meragukan dan membantah liputan IndonesianLeaks ini juga ditunjukkan Pihak Mabes Polri. Institusi penegak hukum ini sendiri membantah laporan IndonesisnLeaks itu. Mabes Polri pernah menanyakan Terpidana Basuki Hariman. Basuki menjawab, tidak pernah memberikan uang suap kepada Kapolri. Jadi, selesai, kalau sumbernya saja tidak bilang tidak pernah, mengapa harus ada?

Mabes Polri juga membantah kedua mantan penyidik KPK dari Polri Ronald Ronaldy dan Harun, merobek Buku Merah. Dua Mantan penyidik KPK itu tidak terbukti merobek beberapa halaman dari buku catatan keuangan milik Kumala. Basuki mengakui, dia menggunakan dana itu untuk kepentingan sendiri dengan menyebut nama2 pejabat.

Seorang penulis di Kompasiana menegaskan,
sampai saat ini, persoalan perusakan Buku Merah itu, masih menjadi tanda tanya, dan membuat masyarakat menjadi bingung. Menurut KPK tidak ada perusakan barang bukti buku merah dengan cara mengkoyaknya.
Pihak KPK telah melakukan pemeriksaan baik terhadap kedua .penyidik dari Polri yang bertugas di KPK, dan kemudian memeriksa CCTV pengawas yang ada di KPK, tidak ditemukan adanya pengoyakan buku merah yang terekam oleh CCTV pengawas.
Ironisnya, persoalan Buku Merah inipun digoreng dan dijadikan sebagai komsumsi politik.

Penilaian unik datang dari Masinton Anggota DPR Fraksi PDIP. Marinton membaca Kasus Buku Merah ini sebagai permainan kolaborasi segitiga, saling tiktok melempar issu. Kolaborasi ini melibatkan kelompok pressure group, oknum sempalan di KPK, dan oknum Jenderal di Mabes Polri yang ngebet jadi kapolri. Masinton menjabarkan, kelompok pressure group memainkan publikasi isu melalui IndonesiaLeaks. Dia menduga, material issu utamanya disuplai dari oknum sempalan penyidik KPK dengan kasus gratifikasi impor daging yang melibatkan Basuki Hariman pemilik CV Sumber Laut Perkasa tersangka di KPK dalam kasus suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar.

Kini pekerjaan rumah bagi Tim IndonesianLeaks, bagaimana cara untuk membendung tudingan laporan yang diklaim hasil investigasi itu tidak hoaks dan tidak berita bohong. Jika gagal, ke depan eksistensi IndobedisnLeaks ini akan sirna.
(YAMINUDIN & ANDRIS YUNUS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here