GUBERNUR NTB DIMATA LUKMAN HAKIEM, MANTAN ANGGOTA DPR-RI

0
797

Zainul Majdi adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang dua periode terakhir ini. Anak muda bertubuh tinggi semampai, berkulit kuning, dan berwajah tirus itu dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB).

Saya mengenalnya ketika bersama-sama bertugas di Komisi X DPR-RI periode 2004-2009. Saya dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Zainul dari Partai Bulan Bintang (PBB).

Belakangan saya tahu, Zainul adalah cucu pendiri Nahdhatul Wathan (NW), Allahuyarham Syaikh Zainuddin Abdul Madjid. NW adalah organisasi Islam terbesar di NTB, dan salah satu anggota istimewa Partai Masyumi. Oleh karena itu logis belaka, Zainul menjadi anggota DPR mewakili PBB –partai yang oleh para pendirinya dimaksudkan untuk melanjutkan cita-cita perjuangan Masyumi.

Mengetahui Zainul cucu Syaikh Zainuddin, sayapun mengubah panggilan kepadanya menjadi Tuan Guru. Panggilan itu saya “umumkan secara resmi” dalam suatu rapat kerja Komisi X dengan Menteri Pendidikan Nasional. Sejak itu, seluruh anggota Komisi X dan mitra kerjanya, baik formal maupun informal, memanggilnya Tuan Guru.

Mendapati perubahan nama panggilan, Tuan Guru Zainul Majdi, tidak berubah sikap. Dia tetap dengan gayanya yang khas: sedikit bicara, senyum di kulum jika ada sesuatu yang lucu, kritis terhadap hal-hal yang prinsipil, tidak pernah menjaga jarak dalam pergaulan, dan santun.
Santun! Itulah kata kunci selama saya mengenal Tuan Guru.

Dalam suatu kunjungan kerja, saya dan M. Yasin Kara dari PAN menggoda Tuan Guru dengan pertanyaan dan pernyataan provokatif mengenai Islam. Dengan tetap pada sikap santunnya, Tuan Guru menanggapi provokasi kami dengan sikap tegasnya yang prinsipil.
Kadang-kadang, jika “provokasi” sudah dianggap keterlaluan, Tuan Guru memasang wajah serius. “Jangan begitu, Bang.” Dan kami pun sama-sama tertawa.

Sebagai anggota Komisi X, saya ingat, Tuan Guru gigih sekali memperjuangkan agar Mendiknas membantu pembangunan (atau pemugaran?) asrama mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir. Bukan karena Tuan Guru pernah dan saat itu sedang menyelesaikan program doktor di Mesir, tapi karena jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir tergolong yang jumlahnya cukup banyak.

Karena hujjah yang diajukan masuk akal, Komisi X mendukung usulan Tuan Guru.
Belum habis masa bakti di DPR, terbetik kabar Tuan Guru akan ikut dalam Pemilihan Gubernur NTB. Secara pribadi-pribadi, kami di Komisi X mendukung pencalonan itu.

Saya yakin, dengan kapasitas dan integritasnya, Tuan Guru bakal terpilih menjadi gubernur NTB. Dengan keyakinan itu, saya berusaha memengaruhi penguasa PPP untuk mengusung Tuan Guru. Usaha saya gagal, karena penguasa PPP sudah terlanjur jatuh hati kepada calon lain.

Dalam sebuah percakapan, Tuan Guru menyampaikan kepada saya bahwa sesungguhnya bagian terbesar konstituen PPP cenderung kepada dirinya, hanya saja mereka tidak berani mengekspresikan sikapnya lantaran berbeda dengan sikap dengan penguasa partai. “Mereka perlu isyarat dari orang pusat,” ujar Tuan Guru.

Dalam ikhtiar memberi dukungan kongkrit untuk Tuan Guru yang saya hormati itu, sayapun datang ke Pancor sebagai narasumber dalam sebuah seminar pendidikan yang menghadirkan para kepala sekolah NW se-NTB.

Dalam makalah yang saya susun dan dibagikan kepada peserta seminar, saya cantumkan identitas sebagai “Wakil Ketua Fraksi PPP DPRRI.”
“Yang penting dalam makalah yang dibagikan, ada PPP-nya,” ujar Tuan Guru.
Di luar acara seminar, saya bertemu beberapa teman lama sesama aktivis Yogya. Kami berdiskusi panjang mengenai kekurangan dan kelebihan calon gubernur Tuan Guru.

Yang menarik, di masa kampanye itu saya menemukan baliho besar di berbagai sudut kota Mataram berbunyi: “Tuan Guru Bajang Bukan Calon Gubernur NTB”, disertai foto yang bukan wajah Tuan Guru yang saya kenal. Ketika saya tanyakan kenapa baliho-baliho yang menyesatkan itu tidak dia bantah dengan baliho serupa, dengan senyum khasnya Tuan Guru menjawab: “Biar saja Bang. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi saya menjadi gubernur NTB.”

Alhamdulillah, Tuan Guru terpilih menjadi gubernur NTB. Bukan hanya satu periode, tetapi untuk dua periode.

Keterpilihan untuk dua kali masa jabatan, tentu menunjukkan prestasinya sebagai Gubernur periode pertama diakui oleh rakyat NTB. Rakyat NTB tidak hanya mengakui prestasi Tuan Guru, juga mencintai pribadinya. Oleh karena itu, perkataannya didengar oleh rakyatnya.

Suatu saat, sejumlah tokoh masyarakat di NTB bermaksud mendirikan sebuah aliansi untuk menolak sebuah ajaran yang dianggap sesat. Dengan pengetahuannya yang luas mengenai Islam, Tuan Guru memberi nasihat agar niat itu diurungkan. Pertama, karena label sesat untuk aliran itu masih debatable, bahkan sejak berabad lalu. Kedua, aliran itu bukan aliran mainstream. “Mengapa aliran mainstream harus takut kepada yang bukan mainstream?” Menurut Tuan Guru, jika kita sungguh-sungguh menanamkan pemahaman Islam yang benar, aliran apapun tidak akan berkembang di NTB.

Tuan Guru yakin, akidah yang benar dan dirawat dengan baik oleh mayoritas umat Islam, niscaya akan melahirkan harmoni.
Demi menjaga harmoni, seperti diceritakan oleh seorang tokoh muda NTB di Jakarta, Tuan Guru tidak segan untuk menelepon aktivis muda itu. “Kalau gubernur yang menelepon, kami mau apa lagi,” ujar seorang aktivis muda NTB yang sering menggerakkan demo.

Maka, jika dalam beberapa hari ini viral di media sosial mengenai maaf yang diberikan Tuan Guru Bajang kepada seorang Steven yang bermental rasis dan telah menistanya secara sangat tidak patut, saya tidak terkejut.

Tuan Guru memang seorang yang santun. Kesantunan sebagai manifestasi dari akhlak Islam, melahirkan sikapnya yang pemaaf dan mencintai sesama.
Meskipun usia Tuan Guru lebih muda dari saya, saya banyak belajar darinya. Oleh karena itu, dalam pertemuan terakhir di akhir 2015, saya tidak segan menyebutnya Syaikh. Bukan lagi Tuan Guru Bajang.

(Sumber : Lukman Hakiem, Merawat Indonesia Belajar dari Tokoh dan Peristiwa, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, November 2017, halaman 250-254. YAMINUDIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here