DEMOKRASI INDONESIA: HARAPAN ITU MASIH ADA

0
266

Oleh Aguk Irawan MN

Bila ukuran Demokrasi di Indonesia lahir terhitung sejak Reformasi, maka belum genap 20 tahun, wajah demokrasi kita sudah begitu memprihatinkan. Belakangan, sadar atau tidak, kita sedang menyaksikan semacam sebuah film drama kolosal yang absurd. Ketika partai-partai politik tak lagi bicara idealisme sebagai syarat dan harga mati bagi sebuah pembangunan dan kesejahtraan-sosial, bahkan sudah merasa cukup hanya dengan memajang bintang sinetron untuk membujuk rakyat kecil sebagai calon pemimpin, atau memake-up orang yang sebenarnya tak punya kelebihan apapun, selain hanya enak dilihat, karena kesan jelata dan bisa menarik empati; ditambah peran lembaga survey yang banyak berpura-pura menjalankan ”amanah demokrasi”, tapi sebenarnya justru telah melecehkannya; dengan target melulu demi bayaran dan uang.

Maka, cepat atau lambat, kita pun harus sadar dan tahu: resiko ‘drama kolosal’ itu terlampau mahal bagi perjalanan bangsa yang besar ini. Sadar dari kejernihan berpikir; dari yang sekadar kemasan menjadi sesuatu yang esensial; sadar dari yang hanya topeng menjadi wajah asli. Sadar untuk menempatkan partai politik dan lembaga Survey bukan menjadi barang komoditas, yang merasa cukup dan puas menempatkan bintang sinetron dan “wong ndeso” sebagai barang dagangannya; muda, cantik, cetar-membahana dan mempesona, atau kemasan alternatif; tirus, kurus dengan wajah yang memprihatinkan. Padahal semua ini semacam absurditas dan nihilisme. Hanya pelengkap khayalan-khayalan.

Adalah Ibnu Khadun, pemikir besar muslim abad 14 yang mengingatkan kita dalam sebuah karya monumentanya; al-Ibar dan muqaddimah-nya. Menurutnya, jika dunia politik sudah penuh noda dan intrik. Yaitu prilaku elit yang hanya pandai membual, dengan menjual kemasan-kemasan yang kamuflase dan berpoyah-poyah, maka gerbang kehancuran bangsa itu sudah kian dekat. Sebab baginya, negara juga seperti makhluk hidup lainnya, mempunyai umur; ia lahir, mekar menjadi tua, dan akhirnya hancur. Kehancurannya akan ditandai dengan hadirnya kepalsuan-kepalsuan. Kemasan adalah segalanya dan ketidakadilan dibedaki menjadi hal yang lumrah, sementara tak tampak lagi harapan akan terjadinya perubahan yang radikal.

Tentu, ketidak adilan disini bisa dibuktikan dengan lumrahnya gigitan investasi kapitalisme asing di belbagai sektor, tetapi orang tak lagi peduli. Bahkan anehnya, banyak yang memujinya Karena itu, jauh hari Marx pernah menyamakan kekuasaan modal dengan vampir; ada, nyata tapi kita tak melihat, bahkan sulit mendeteksi dan sadar akan keberadaannya. Lebih dari itu, kita tahu ”vampir selalu bangkit lagi setelah ditikam sampai mati”. Dan kita tahu, bahwa dalam drama kolosal, vampir sering diperankan oleh orang yang tubuhnya tirus, dengan wajah yang memprihatinkan. Lalu apa yang bisa dilakukan menghadapi itu?

Ibnu Khaldun menyarankan, tidak ada jalan lain untuk membuat negara terus muda dan segar bugar, bahkan punya stamina, selain menjadikan ulama yang sekaligus umara (pemimpin negara). Ibnu Khaldun berpendapat lagi, bahwa peranan agama sangat vital dalam sebuah negara. Menurutnya setiap negara yang luas daerah kekuasaannya pasti punya jejak dari tumbuh-kembangnya sebuah agama, baik yang disiarkan oleh seorang nabi (nubuwwah) atau seruan kebenaran seorang ulama (da’watu haqq). Maka kehadiran ulama dan umara adalah secamam obat bagi stamina sebuah bangsa besar yang sakit. Stamina disini Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai taufiq. Taufiq ini hanya bisa digapai dengan dua hal; solidaritas dan persatuan tekad untuk berjuang, yang keduanya itu ia rangkum dalam bahasa ashabiyah.

Ashabiyah adalah seamcam hubungan sosial yang menekankan kesatuan, kesadaran berkelompok, dan kohesi sosial dalam konteks tribalisme dan berkelompok, yang dalam dunia modern diterjemahkan menjadi kesadaran akan nasionalisme. Gagasan ini memang sudah ada sejak lama, namun menjadi sempurna ditangan Ibn Khaldun. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan untuk mentaati ulil amri, kedua kelompok tersebut masuk ke dalamnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. An Nisaa: 59) Syaikh As Sa’di berkata dalam tafsirnya, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk mentaati Ulil Amri. Ulil Amri adalah orang yang memimpin; ia umara, sekaligus ulama. Sesungguhnya urusan-urusan umat tidak akan menjadi baik kecuali dengan mengikuti perintah dan arahannya.

Tentu yang dimaksud Ibnu Khaldun dan As Sa’di di atas seorang pemimpin bukanlah yang mirip wayang atau boneka dan sekedar cantik ketika dibedaki atau dimake-up dilayar kaca. Lalu partai membastisnya ke khalayak dengan menjadi versi lain, semacam di drama kolosal atau dari sinetron, ia menjangkau orang ramai—tapi bukan karena sesuatu imbauan yang menggugah secara universal, tapi demi kepentingan berkuasa dan menikmati kekuasaan saja. Maka mungkin sudah saatnya, kita tahu dan sadar ada yang hilang dan bopeng di negeri ini. Tetapi jangan terburu putus asa, sebab sebanarnya harapan itu masih ada. Setidaknya begitu bagi Dahlan Iskan, tokoh yang kita sudah mafhum kiprahnya. Tokoh yang kita harapkan, untuk mewakali ulama dan umara itu adalah Tuan Guru DR. KH. Zainul Majdi untuk masa depan Indonesia. Penerus Gus Dur.

Bagi Dahlan Iskan, inilah Gubernur yang begitu dicintai dan mecintai rakyat, bahkan jikapun ia terpaksa harus mengkritik, tidak membuat sasarannya terluka, bahkan tertawa-tawa saking mengenanya. Dari Al Azhar pula sang Gubernur meraih gelar Doktor untuk ilmu yang sangat sulit ‘Tafsir Al Qur’an’. Inilah satu-satunya kepala pemerintahan di Indonesia yang hafal Al-Qur’an dan paham dengan makn dan belbagai tafsirnya. Selama karirnya itu, Tuan Guru Bajang memiliki track record yang komplit; ulama sekaligus umara. Ahli Agama, Intelektual, Legislator, Birokrat, dan sosok santun. Tutur bahasanya terstruktur. Pidatonya selalu berisi. Jalan pikirannya runut. Kelebihan lain: masih muda. Ratusan penghargaan akan prestasinya sebagai umara (Gubernur) dengan mudah bisa kita akses di media dan Gelar Tuan Guru di depan namanya, mencerminkan bahwa ia tokoh agama sangat terhormat di Lombok sejak dari kakeknya; Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid.

Tetapi jangan lupa absurditas dan nihilisme itu memang bisa memukau dan memperdaya. Saatnya waspada!

Yogyakarta, 30 Januari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here